Washington DC, AS – Konflik panas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya menemukan titik terang. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara resmi menandatangani nota kesepahaman atau kesepakatan damai awal di sela-sela KTT G7 di Prancis. Kesepakatan ini langsung berlaku efektif dan menjadi angin segin bagi pasar global yang sempat tertekan akibat perang.
Poin utama dalam perjanjian ini cukup besar. AS sepakat mencabut seluruh sanksi terhadap Iran. Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang sempat ditutup dan membuat harga minyak bumi membubung tinggi. Tak hanya itu, kedua negara juga menyepakati paket rekonstruksi untuk Iran senilai 300 miliar dolar AS atau setara Rp 4.800 triliun.
Namun, isu paling krusial yaitu program nuklir Iran belum sepenuhnya tuntas. Masalah ini baru akan dirundingkan dalam masa transisi 60 hari ke depan dan bisa diperpanjang jika diperlukan. Dalam kesepakatan tersebut, Iran kembali menegaskan komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Semua uranium yang sudah diperkaya akan diencerkan di tempat di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Meski damai sudah di depan mata, ketegangan masih terasa. Trump mengancam akan membom Iran habis-habisan jika kesepakatan final gagal dicapai. Di sisi lain, juru bicara parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dengan tegas menyatakan jarinya masih tetap di pelatuk. “Jika musuh tidak mengerti bahasa logika, kami akan kembali menggunakan bahasa kekuatan,” ujarnya kepada media lokal.
Analisis Dampak: Kesepakatan ini langsung disambut positif oleh pasar. Harga minyak mentah Brent langsung turun satu persen ke level 78,79 dolar AS per barel. Meski begitu, angka ini masih lebih tinggi delapan dolar dibandingkan sebelum perang dimulai. Para analis menilai, meski ada ancaman dari kedua belah pihak, gencatan senjata ini menjadi langkah besar untuk mencegah krisis ekonomi global yang lebih parah. Trump sendiri mengakui bahwa tanpa kesepakatan ini, dunia bisa mengalami depresi ekonomi.