Washington kian memperketat kampanyenya menekan Iran, terutama setelah Presiden Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada 2025 dan menghidupkan lagi strategi 'tekanan maksimum'. Teranyar, AS menjatuhkan sanksi pada Rabu (XX/YY/ZZZZ), menargetkan belasan kapal, perusahaan, hingga individu yang terlibat dalam penjualan minyak Iran. Menurut Washington, hasil penjualan minyak itu digunakan untuk mendanai program rudal balistik Teheran yang membahayakan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan, Iran menggunakan sistem finansialnya untuk menjual minyak secara ilegal, mencuci uang, serta mendapatkan komponen untuk program senjata nuklir dan konvensional. Tak hanya itu, Teheran juga dituding mendukung proksi teroris di kawasan. Sanksi ini membekukan aset-aset terkait di AS dan melarang warga Amerika melakukan transaksi finansial dengan entitas yang ditargetkan.
Namun, Iran punya pandangan berbeda. Teheran menyebut tindakan AS ini sebagai 'pembajakan' dan bersikeras memiliki hak untuk menggunakan teknologi nuklir secara damai. Mereka menyangkal sedang mengembangkan bom nuklir dan rudal jarak jauh yang bisa mencapai AS seperti yang dituduhkan Trump.
Langkah sanksi ini bukan yang pertama. Sejak Trump membatalkan perjanjian nuklir multilateral (JCPOA) pada 2018, AS terus menghantam ekonomi Iran. Ironisnya, di tengah gempuran sanksi dan penumpukan militer AS – termasuk dua kapal induk dan armada jet tempur – di Timur Tengah, kedua negara juga tengah berupaya meredakan ketegangan melalui jalur diplomasi.
Negosiator AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Jenewa pada Kamis (XX/YY/ZZZZ) untuk putaran ketiga perundingan tahun ini. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi Teheran, mengungkapkan keyakinannya bahwa kesepakatan 'adil dan seimbang' bisa dicapai. Namun, ia menekankan Iran tidak akan menyerah pada haknya untuk pengayaan uranium demi tujuan damai, yang bertentangan dengan tuntutan AS untuk pengayaan nol.
Analisis Dampak:
Sanksi ekonomi yang semakin ketat ini berpotensi makin mencekik rakyat Iran, meskipun klaim AS menargetkan rezim. Ketegangan yang terus memuncak ini juga meningkatkan risiko konflik di Timur Tengah, sebuah kawasan yang sudah sangat rentan. Di sisi lain, upaya diplomasi yang masih berjalan menjadi harapan tipis di tengah retorika keras dan aksi saling tekan. Pasar minyak global juga patut memantau, karena sanksi terhadap salah satu produsen minyak utama dunia ini bisa sewaktu-waktu mempengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi.