Perundingan alot antara Ukraina dan Rusia di Abu Dhabi, yang difasilitasi Amerika Serikat, berakhir tanpa kesepakatan konkret. Ironisnya, di tengah upaya mencari jalan keluar konflik, serangan Rusia ke infrastruktur energi Ukraina justru kian gencar, membuat sekitar 1,2 juta warga terputus listrik di tengah suhu beku. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut diskusi ini fokus pada "parameter pengakhiran perang, serta kondisi keamanan yang diperlukan," bahkan pembicaraan lanjutan bisa digelar pekan depan.
Dalam perundingan langka ini, Ukraina diwakili negosiator utama Rustem Umerov dan Kepala Intelijen Militer Kyrylo Budanov, sementara Rusia mengirim perwakilan intelijen militer dan angkatan daratnya. Utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, juga hadir. Meskipun Uni Emirat Arab menyebut pertemuan itu "konstruktif dan positif," masalah utama tetap ada. Termasuk tuntutan Rusia agar Ukraina mundur dari Donbas, wilayah industri penting di timur. Draf awal AS sempat dikritik Kyiv karena dianggap terlalu mengakomodasi tuntutan Moskow, sementara Rusia menolak usulan penempatan pasukan perdamaian Eropa.
Di tengah upaya diplomasi ini, serangan Rusia terus memakan korban. Wakil Perdana Menteri Ukraina, Oleksii Kuleba, melaporkan sekitar 1,2 juta warga kehilangan listrik akibat gempuran infrastruktur energi di tengah suhu di bawah nol derajat celcius. Serangan drone di Kyiv menewaskan satu orang dan melukai empat lainnya, sementara 27 orang terluka di Kharkiv.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, geram dengan situasi ini. Ia menuduh Presiden Putin bertindak "sinis." "Rudalnya tidak hanya menghantam rakyat kami, tapi juga meja perundingan," tegas Sybiha. Baginya, serangan biadab ini sekali lagi membuktikan bahwa Putin pantasnya diadili di pengadilan khusus, bukan duduk di meja perdamaian.