Bagi banyak anak muda di Tunisia, pertanyaan besar bukan lagi soal bagaimana mencari nafkah, melainkan di mana mereka bisa membangun masa depan. Kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik membuat sebagian dari mereka mulai berpikir untuk angkat kaki dan mencari kehidupan baru di luar negeri.
Salah satunya Maher Qassem. Pria yang bekerja di bidang media ini mengaku hampir seluruh gajinya habis untuk membayar cicilan utang, sewa rumah, dan biaya pendidikan anaknya. Bahkan, ia sempat kesulitan membantu biaya pengobatan ibunya yang sedang sakit. Frustrasi dengan kondisi tersebut, Qassem kini serius mempertimbangkan untuk memulai hidup dari nol di negara lain.
Keluhan serupa datang dari Ghaith, warga Tunisia yang kini berusia 26 tahun. Ia masih ingat betul euforia pemilihan presiden 2019 yang membawa harapan besar terhadap Kais Saied. Namun, tujuh tahun kemudian, ia menilai hampir tidak ada perubahan signifikan dalam hidupnya. Harga kebutuhan pokok masih mahal, barang langka sering terjadi, dan komunikasi pemerintah dinilai kurang transparan.
Meski begitu, tidak semua warga kehilangan kepercayaan. Mohamed Amine, seorang sopir taksi, tetap yakin Saied adalah pemimpin yang tulus dan ingin membawa perubahan. Ia menilai berbagai hambatan telah menghalangi program reformasi presiden, sehingga menurutnya terlalu dini untuk menilai hasilnya.
Di balik perdebatan politik tersebut, masalah nyata yang dihadapi Tunisia adalah pengangguran. Data Badan Statistik Nasional menunjukkan tingkat pengangguran mencapai 14,9 persen pada kuartal kedua 2026, dengan sekitar 622.000 orang tanpa pekerjaan. Angka ini jauh lebih tinggi di kalangan anak muda dan lulusan universitas, memicu kekhawatiran akan hilangnya generasi produktif akibat migrasi ke luar negeri.