Gelombang demonstrasi di Albania semakin memanas. Setelah dua hari aksi mahasiswa berturut-turut di Tirana, situasi berujung ricuh pada Selasa malam waktu setempat. Massa yang tidak terkendali membobol gedung Kementerian Pendidikan dan membakarnya. Polisi antihuru-hara yang berusaha membubarkan kerumunan langsung berhadapan dengan demonstran, mengakibatkan setidaknya 16 orang ditangkap.
Pada Rabu, aksi lanjutan tetap berlangsung. Ratusan mahasiswa kembali berkumpul dan melempari kantor kementerian dengan batu. Mereka tidak hanya menuntut perbaikan fasilitas kampus dan keringanan biaya kuliah, tetapi juga mendesak Perdana Menteri Edi Rama untuk mundur. Aparat membalas dengan gas air mata dan meriam air untuk memecah massa, sementara demonstran mencabut pagar pembatas jalan untuk menghalangi arus lalu lintas.
Wakil Perdana Menteri Albana Kociu mengecam aksi anarkis tersebut. Dalam pernyataannya di Facebook, ia menegaskan bahwa hak untuk berprotes adalah sah, namun tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan atau perusakan fasilitas publik. Ia mengimbau warga untuk menjauhkan diri dari tindakan vandalisme.
Menariknya, aksi ini bukan sekadar protes mahasiswa biasa. Menurut Besar Likmeta dari Balkan Investigative Reporting Network, demonstrasi ini merupakan puncak dari 'Revolusi Flamingo'—gerakan yang sudah berlangsung selama empat bulan terakhir. Gerakan ini awalnya dipicu oleh proyek resor di kawasan lindung Albania selatan yang dikaitkan dengan menantu Presiden AS, Jared Kushner. Isu tersebut memicu kemarahan publik terhadap dugaan korupsi dan kurangnya transparansi pemerintah, yang kemudian meluas menjadi tuntutan akan lapangan kerja dan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda Albania.