Gerakan akar rumput 'No Kings' kembali menggelar aksi massal di berbagai kota di Amerika Serikat pada Sabtu lalu. Kali ini, mereka mengusung misi spesifik: mendorong masyarakat untuk mencoblos lebih awal (vote early) di pemilihan umum paruh waktu (midterm) November mendatang. Dengan lebih dari 3.000 acara terencana, jaringan ini bergerak cepat membangun momentum setelah dua tahun demonstrasi menentang kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Meski diklaim nonpartisan, gaung aksi ini jelas merupakan bentuk resistensi terhadap kebijakan Trump, terutama terkait isu pemilu. Di Lincoln Memorial, Washington DC, ratusan orang berjaket tebal menari diiringi musik band lokal sambil mengangkat plakat bertuliskan 'VOTE EARLY' dan 'HANDS OFF MY VOTE!'. Atmosfer dingin tak menyurutkan semangat mereka untuk mengamankan suara.
Analisis singkat: Strategi 'vote early' ini bukan tanpa alasan. Pendukung gerakan ini tampaknya ingin mengunci suara sebelum potensi kontroversi di hari-H. Pasalnya, Trump diketahui lama mencurigai sistem pemungutan suara via pos (mail-in voting) dan sempat mengklaim tanpa bukti bahwa kecurangan merugikan dirinya di 2020. Baru-baru ini, pemerintahannya bahkan menggugat pejabat pemilu California dan mengirim peringatan keras dari Departemen Kehakiman terkait pemilih non-warga negara. Langkah 'No Kings' ini adalah tameng preventif: memastikan suara rakyat masuk kotak sebelum badai sengketa hukum menerjang.