BUMERANG! BUNUH PEMIMPIN: KUNCI SUKSES ATAU AWAL BENCANA? - Berita Dunia
← Kembali

BUMERANG! BUNUH PEMIMPIN: KUNCI SUKSES ATAU AWAL BENCANA?

Foto Berita

Strategi melumpuhkan musuh dengan menargetkan pemimpinnya kerap dianggap jalan pintas untuk meraih kemenangan. Namun, di panggung geopolitik Timur Tengah, taktik ini justru terbukti menjadi bumerang yang memicu kekacauan dan konsekuensi tak terduga dalam jangka panjang.

Jurnalis kawakan di Timur Tengah menyoroti bagaimana pembunuhan atau penangkapan pemimpin lawan seringkali memicu euforia kemenangan sesaat bagi para pelakunya, menciptakan ilusi keberhasilan instan. Namun, para pakar melihat strategi ini sebagai resep bencana, terutama di kawasan yang kompleks ini. Alih-alih menciptakan stabilitas, tindakan semacam ini justru berpotensi memicu radikalisasi atau kekosongan kekuasaan yang diisi oleh faksi lebih ekstrem. Sejarah mencatat, setiap kali Amerika Serikat dan Israel mencoba “memenggal kepala” kepemimpinan di Timur Tengah, hasilnya kerap jauh dari harapan.

Ambil contoh Irak. Eksekusi Saddam Hussein yang awalnya digadang-gadang akan membawa stabilitas, justru membuka jalan bagi kekuatan pro-Iran untuk bangkit. Kekosongan keamanan pasca-invasi AS kemudian menjadi ladang subur bagi berbagai pemberontakan, puncaknya adalah kemunculan kelompok teroris ISIS (ISIL) yang menyapu kawasan, menelan ribuan korban jiwa, termasuk warga AS, dan memicu gelombang pengungsi besar-besaran ke Eropa.

Kisah serupa terjadi pada Hamas. Serangkaian upaya pembunuhan pemimpinnya sejak awal 2000-an, termasuk pendiri Sheikh Ahmed Yassin pada 2004 dan kemudian penggantinya Abdel Aziz Rantisi, ternyata tidak memadamkan perlawanan. Sebaliknya, justru melahirkan pemimpin baru seperti Yahya Sinwar, yang dikenal lebih radikal dan menjadi otak di balik serangan 7 Oktober 2023.

Hizbullah pun memiliki riwayat serupa. Setelah Israel menewaskan pemimpin terdahulu Abbas al-Musawi, justru muncul Hassan Nasrallah yang berhasil memperluas pengaruh kelompok tersebut hingga menjadi kekuatan non-negara yang sangat tangguh.

Dua dekade peperangan intensif mungkin telah melemahkan kekuatan militer kelompok-kelompok bersenjata ini. Namun, para analis menegaskan, membunuh satu pemimpin adalah hal mudah jika dibandingkan dengan menghancurkan ideologi atau gerakan perlawanan terhadap pendudukan yang melatarinya. Jeda pertempuran yang terjadi saat ini bisa jadi bukan akhir dari masalah, melainkan hanya ketenangan sementara sebelum badai berikutnya.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook