Di tengah kelangkaan material akibat serangan Israel, nelayan di Gaza berinovasi dengan membuat perahu dari barang-barang bekas. Mereka menggunakan fiberglass, kayu, dan bahkan kusen pintu yang diselamatkan dari puing-puing bangunan untuk merakit perahu kecil atau dingi. Langkah nekat ini menjadi satu-satunya cara untuk menghidupkan kembali sektor perikanan yang lumpuh.
Menurut laporan Al Jazeera, inovasi ini lahir dari tekanan blokade dan kerusakan infrastruktur parah. Sejak konflik terbaru, banyak kapal nelayan hancur atau tidak bisa melaut karena terbatasnya suku cadang dan bahan baku. Dengan perahu darurat ini, para nelayan berusaha mencari nafkah meskipun hasil tangkapan jauh dari cukup.
Dampak krisis ini sangat terasa bagi warga Gaza yang sangat bergantung pada ikan sebagai sumber protein murah. Jika sektor perikanan terus terpuruk, risiko kelaparan dan malnutrisi bisa semakin meluas. Situasi ini juga menunjukkan betapa terisolasi dan kreatifnya masyarakat Gaza bertahan hidup di tengah reruntuhan perang.