Canberra, Al Jazeera – Kekhawatiran global kembali meningkat setelah Australia mengonfirmasi kasus pertama flu burung H5N1 di daratan utama. Temuan ini menandai tonggak kelam baru: virus mematikan itu kini telah menyebar ke seluruh benua di Bumi.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, langsung angkat bicara. Ia menegaskan pemerintahannya akan melakukan "apa pun yang kami bisa" untuk membendung penyebaran virus. "Ini sangat mengkhawatirkan," ujarnya kepada wartawan di Sydney, Sabtu (31/10/2025).
Virus ini terdeteksi pada seekor burung camar laut (brown skua) yang ditemukan di Taman Nasional Cape Le Grand, Australia Barat. Burung tersebut merupakan spesies migran. Seekor burung petrel raksasa di lokasi yang sama juga diduga terinfeksi. Sebelumnya, Australia adalah satu-satunya benua yang bebas dari wabah di daratan utama, meski virus sempat terdeteksi di Pulau Heard pada akhir tahun lalu.
Menteri Pertanian Julie Collins memberikan sedikit kabar baik: virus belum ditemukan di sektor unggas atau pertanian Australia. Namun ia mengakui, "Kami semua tahu tidak mungkin selamanya bebas flu burung."
Analisis Dampak: Meski infeksi pada manusia masih langka, penyebaran H5N1 ke Australia memicu alarm global. Dalam beberapa tahun terakhir, virus ini telah memaksa pemusnahan ratusan juta unggas di seluruh dunia, mengganggu rantai pasok pangan, dan memicu lonjakan harga telur serta daging ayam. Masuknya virus ke benua terakhir yang steril ini membuktikan bahwa tidak ada satu pun kawasan yang aman dari ancaman pandemi. Para ahli kini waspada terhadap potensi mutasi virus yang bisa membuatnya lebih mudah menular ke manusia.