Gelombang protes mahasiswa di Prancis yang awalnya menuntut perbaikan sektor pendidikan kini berubah menjadi salah satu kerusuhan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Namun, sorotan media arus utama justru dinilai timpang: banyak outlet lebih menyoroti aksi kekerasan dan penjarahan ketimbang menyuarakan tuntutan para demonstran.
Alih-alih membahas substansi aspirasi mahasiswa, sejumlah media justru terobsesi membahas siapa dan seperti apa rupa para pengunjuk rasa, bahkan kerap menggunakan istilah bernuansa rasial. Narasi ini pun dengan cepat diadopsi oleh kelompok-kelompok sayap kanan di luar negeri untuk memperkuat agenda politik mereka.
Diskusi panel yang melibatkan penulis Cole Stangler, jurnalis Diane de Vignemont, akademisi Harrison Stetler, dan profesor Philippe Marliere menyoroti bagaimana framing media dapat menggeser fokus publik dari isu kebijakan ke isu identitas. Dampaknya bagi masyarakat, cara media membingkai kerusuhan berpotensi memperlebar polarisasi sosial dan mendelegitimasi gerakan mahasiswa yang sah.
Dalam konteks global, pola serupa juga terlihat di tempat lain. Menjelang pemilu Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali menggunakan taktik alarmis dengan mengangkat isu ancaman "segera" dari Iran untuk konsolidasi dukungan. Sementara di Ukraina, lebih dari empat setengah tahun sejak invasi besar-besaran Rusia, jurnalis setempat seperti Olga Rudenko dari The Kyiv Independent harus menyeimbangkan tugas mendokumentasikan perang, melawan propaganda Rusia, sekaligus mengawasi pemerintah sendiri di tengah tekanan agar media mengikuti garis resmi. Ketiga fenomena ini menunjukkan bahwa pertarungan narasi di media sama pentingnya dengan peristiwa di lapangan.