Beijing, China - Sepanjang tahun ini, China kebanjiran tamu pemimpin dunia. Total sudah 26 kepala negara dan pejabat tinggi dari 23 negara bertandang ke Negeri Tirai Bambu. Angka ini menunjukkan betapa besarnya daya tarik China, baik dari sisi diplomasi maupun ekonomi.
Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, jadi tamu terbaru. Dalam kunjungan tiga hari, ia dijadwalkan bertemu Menlu Wang Yi dan Wapres Han Zheng di Beijing, lalu meluncur ke Shenzhen untuk urusan sains dan teknologi. Menurut catatan Al Jazeera, Cooper adalah pejabat asing ke-26 yang mampir ke China tahun ini.
Daftar tamunya bervariasi, mulai dari presiden, perdana menteri, kanselir, putra mahkota, hingga menteri luar negeri. Mereka datang dari berbagai kawasan: Eropa (10 negara), Asia (8), Timur Tengah (2), Afrika (2), Amerika Utara (2), dan Amerika Latin (2). Beberapa nama besar yang sudah mampir antara lain PM Kanada Mark Carney, PM Inggris Keir Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, PM Spanyol Pedro Sanchez, Presiden AS Donald Trump, dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Yang menarik, Presiden China Xi Jinping memilih 'staycation' alias menerima tamu di rumah ketimbang bepergian ke luar negeri. Ini sinyal kuat bahwa China ingin menunjukkan posisinya sebagai pusat gravitasi ekonomi dan politik global.
Analisis Dampak: Banjirnya kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Di baliknya, ada kepentingan besar: investasi, akses pasar, dan kerja sama di bidang manufaktur, teknologi, energi, hingga infrastruktur. Eropa, misalnya, meski punya perbedaan pandangan dengan Beijing soal keamanan dan hubungan China-Rusia, tetap antre untuk menjalin hubungan dagang. Data Bea Cukai China mencatat total perdagangan barang China tembus rekor 45 triliun yuan (sekitar $6,5 triliun) pada 2025, menjadikannya negara dengan perdagangan terbesar dunia untuk tahun kesembilan berturut-turut. Surplus perdagangan China bahkan dilaporkan mencapai $1 triliun untuk pertama kalinya. Ini artinya, China masih jadi 'mesin uang' yang sulit diabaikan siapa pun.