Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) yang dijuluki 'Davos-nya Rusia' resmi bergulir pada Rabu (4/6) di tengah situasi panas. Acara yang berlangsung tiga hari ini dihadiri sekitar 20.000 tamu dari 130 negara, termasuk delegasi resmi AS untuk pertama kalinya sejak perang Ukraina pecah.
Namun, beberapa jam sebelum forum dimulai, Ukraina melancarkan serangan drone yang menyasar fasilitas energi di sekitar St. Petersburg. Lokasi serangan hanya berjarak 16 km dari venue utama SPIEF. Akibatnya, bandara kota sempat lumpuh sementara, tapi pihak penyelenggara memastikan forum tetap berjalan sesuai rencana.
SPIEF bukan sekadar ajang bisnis. Bagi Kremlin, forum ini jadi panggung untuk membuktikan bahwa Rusia masih punya banyak kawan di tengah isolasi Barat. Sejak invasi ke Ukraina pada 2022, banyak perusahaan multinasional hengkang, tapi Moskow justru memperkuat hubungan dengan negara-negara Global South seperti Uzbekistan, Tanzania, dan lainnya.
Salah satu sorotan tahun ini adalah kehadiran Rodney Mims Cook Jr, utusan khusus Presiden AS Donald Trump. Ia dijadwalkan bicara dalam sesi bertajuk 'Rusia-AS: Dialog Budaya'. Ini sinyal bahwa meski hubungan diplomatik membeku, pintu komunikasi ekonomi belum sepenuhnya tertutup.
Analisis Dampak: Serangan drone ini menjadi pengingat bahwa perang Ukraina tidak bisa dipisahkan dari forum ekonomi mana pun di Rusia. Meski acara bergengsi, risiko keamanan tetap tinggi. Kehadiran delegasi AS justru menarik: ini bisa jadi celah diplomasi di tengah ketegangan, atau malah membuat Ukraina semakin gerah karena Barat dianggap 'membiarkan' Rusia tetap eksis di panggung global.