Manila kembali bergejolak. Ribuan warga turun ke jalan, bentrok dengan polisi, tepat di momen peringatan 40 tahun sebuah peristiwa bersejarah. Mereka menuntut pertanggungjawaban atas skandal korupsi proyek pengendalian banjir yang diduga merugikan negara dan masyarakat.
Di Filipina, suasana tegang menyelimuti Ibu Kota Manila saat ribuan demonstran terlibat bentrok dengan aparat kepolisian. Aksi ini berlangsung bertepatan dengan peringatan 40 tahun sebuah pemberontakan rakyat yang berhasil mengubah sejarah Filipina. Massa aksi turun ke jalan bukan tanpa alasan. Mereka menyuarakan kekecewaan dan kemarahan atas skandal korupsi besar yang melibatkan proyek pengendalian banjir, sebuah isu yang sangat krusial mengingat Filipina kerap dilanda bencana alam.
Para pengunjuk rasa menuntut transparansi dan akuntabilitas penuh dari pihak-pihak yang terlibat dalam dugaan penyelewengan dana. Korupsi dalam proyek infrastruktur vital seperti pengendalian banjir tidak hanya berarti kerugian finansial negara, tetapi juga potensi bahaya besar bagi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat yang rentan terhadap bencana. Isu ini semakin memanaskan situasi politik Filipina, mengingat sejarah panjang perjuangan rakyat melawan korupsi dan tirani, yang puncaknya adalah Revolusi Kekuatan Rakyat (EDSA People Power) di tahun 1986 yang menggulingkan rezim otoriter. Protes kali ini seolah mengingatkan kembali semangat perjuangan tersebut, menuntut agar nilai-nilai keadilan dan pemerintahan yang bersih benar-benar ditegakkan. Kasus ini menjadi cerminan betapa pentingnya pengawasan publik dan penegakan hukum yang tegas untuk memastikan dana rakyat tidak diselewengkan dan pembangunan benar-benar bermanfaat bagi semua.