DONASI BAJU BEKASMU MALAH JADI MASALAH BARU? - Berita Dunia
← Kembali

DONASI BAJU BEKASMU MALAH JADI MASALAH BARU?

Foto Berita

Tumpukan baju bekas menjulang tinggi di pantai Alki, Seattle, bukan karena ombak bandel, melainkan instalasi seni yang dibuat untuk memperingati Hari Bumi 22 April 2016 silam. Pemandangan itu, meski mencolok, menyimpan pesan miris tentang masalah limbah tekstil yang kini makin menggunung. Niat baik mendonasikan pakaian tak terpakai, ternyata seringkali berujung pada masalah baru yang tak kalah pelik.

Ya, banyak dari kita berpikir sumbangan baju bekas ke toko amal adalah solusi terbaik untuk 'spring cleaning' atau bersih-bersih lemari. Namun, kenyataannya tak seindah itu. Menurut data dari Inggris, hanya sekitar 10% sampai 30% dari donasi pakaian yang benar-benar terjual di toko amal. Sisanya? Seringkali berakhir dikirim ke negara-negara berkembang seperti Ghana, di mana tumpukan pakaian bekas ini justru menciptakan masalah ekonomi dan ekologi baru. Para ahli menyebut ini sebagai 'pat on the back' alias menepuk dada karena merasa sudah berbuat baik, padahal hanya memindahkan masalah ke tempat lain.

Lalu, bagaimana cara bersih-bersih lemari yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan? Jangan cuma 'buang-buang' tanpa pikir panjang. Menurut Aja Barber, seorang advokat keberlanjutan, aksi bersih-bersih tanpa pertimbangan matang hanya akan menciptakan ruang kosong yang berujung pada pembelian barang baru dan siklus konsumsi yang tak berkesudahan. Lebih baik perlambat prosesnya dan cari cara agar barang-barangmu bisa 'pulang ke rumah baru' yang tepat.

Manfaatkan platform online! Sekarang banyak cara untuk menjual atau memberikan barang bekas. Kamu bisa pakai Facebook Marketplace atau grup Facebook 'buy nothing' di mana kamu bisa menawarkan barang gratis kepada orang-orang di sekitarmu. Untuk pakaian bermerek, aplikasi seperti Depop atau Vestiaire Collective bisa jadi pilihan. Bahkan, kamu bisa kreatif dengan Instagram Stories untuk mempromosikan barang-barangmu.

Jika barangmu berupa furnitur atau barang besar lainnya, pikirkan untuk menyumbangkannya ke organisasi yang benar-benar membutuhkan. Daripada sekadar menitipkannya di toko amal umum, coba cari kelompok yang membantu pengungsi atau mantan narapidana. Mereka biasanya punya daftar kebutuhan spesifik yang bisa kita bantu penuhi.

Terakhir, Kristy Drutman dari Brown Girl Green menyarankan untuk memaksimalkan pakaian yang sudah kamu punya. Coba terapkan 'capsule wardrobe', yaitu koleksi terbatas pakaian esensial yang bisa dipadupadankan. Atau, adakan acara tukar barang dengan teman-temanmu. Selain hemat, ini juga jadi ajang seru untuk menemukan 'harta karun' baru dari lemari orang lain!


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook