BEIRUT - Perjanjian gencatan senjata baru antara Israel dan Lebanon yang baru saja diumumkan, lagi-lagi kandas. Militer Israel justru mengeluarkan perintah pengungsian baru untuk sejumlah kota dan desa di Lebanon selatan, dan melanjutkan serangan udara yang menewaskan sedikitnya lima orang pada Jumat (25/4).
Laporan kantor berita nasional Lebanon, NNA, menyebutkan pesawat tempur dan drone Israel menghantam kawasan pemukiman, gedung, dan jalanan. Sebuah demolisi besar-besaran juga terjadi di Bab al-Thaniya. Serangan bahkan nyaris mengenai Jabel Amel Hospital, dengan target di dekat area Bank Audi.
Korban jiwa tersebar di beberapa lokasi. Di Habboush, dua orang tewas termasuk seorang dokter. Di Doueir, seorang pemuda tewas dan satu lagi luka parah. Sementara itu, serangan di Qalawiya Tower menewaskan satu orang, dan drone Israel menewaskan seorang pria yang sedang duduk di dalam mobilnya di Kfar Reman.
Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diumumkan pemerintahan Trump pada Kamis (24/4). Ini adalah upaya kedua setelah perjanjian serupa pada 16 April lalu gagal total. Ironisnya, di sela-sela kegagalan itu, lebih dari 600 orang tewas dalam serangan Israel di Lebanon, dan militer Israel kini menduduki seperlima wilayah Lebanon selatan.
Analisis Dampak: Situasi ini menunjukkan bahwa kesepakatan diplomatik tanpa jaminan eksekusi di lapangan hanyalah 'gencatan senjata di atas kertas'. Masyarakat sipil Lebanon kembali menjadi korban, dengan rumah sakit dan infrastruktur vital ikut menjadi sasaran. Sikap saling tuding antara Israel dan Hizbullah, ditambah dengan penolakan tegas dari pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, yang menyebut perjanjian itu sebagai 'menyerah dan kalah', membuat prospek perdamaian semakin suram. Iran juga ikut bermain dengan syarat gencatan senjata penuh di Lebanon sebelum mau berunding lebih luas dengan AS dan Israel, membuat situasi regional semakin panas.