Pembicaraan penting antara Iran dan Amerika Serikat di Muscat, Oman, baru-baru ini menyedot perhatian dunia. Pertemuan tingkat tinggi ini memang membuka kembali saluran diplomasi, namun hasil awalnya belum membuahkan terobosan signifikan. Yang lebih menarik, negosiasi ini justru berlangsung di tengah bayang-bayang kekuatan militer yang kental, menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini pijakan menuju perdamaian, atau hanya sekadar membeli waktu sebelum eskalasi?
Pertemuan yang digelar 6 Februari lalu di sebuah istana dekat bandara Muscat mempertemukan delegasi Iran dan AS. Tim Amerika dipimpin oleh Utusan Khusus Steve Witkoff dan menantu Presiden Trump, Jared Kushner. Namun, ada yang tak biasa: di meja perundingan turut hadir Laksamana Brad Cooper, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), dalam seragam lengkap. Kehadiran Cooper bukan sekadar formalitas; ia adalah sinyal nyata dari tekanan militer yang menyertai diplomasi ini.
Bayangkan saja, saat negosiasi berlangsung, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln beroperasi di Laut Arab. Beberapa hari sebelumnya, pasukan AS bahkan menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk tersebut. Sumber diplomatik Iran, seperti dikutip Reuters, menyebut kehadiran Cooper ‘membahayakan’ perundingan, sementara TV Al-Araby memperingatkan bahwa negosiasi di bawah ancaman hanya akan berbuah biaya strategis.
Kedua belah pihak datang dengan agenda berbeda. Iran bersikeras fokus pada isu nuklir saja, sementara AS menginginkan kerangka komprehensif yang mencakup rudal balistik, kelompok bersenjata regional, hingga masalah hak asasi manusia. Tak satu pun agenda utama berhasil mendominasi, tapi kedua negara sepakat untuk bertemu lagi.
Meskipun tak ada terobosan berarti, pertemuan ini sangat signifikan. Ini adalah kontak diplomatik tingkat tinggi pertama setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025, insiden yang diklaim Iran menewaskan lebih dari seribu orang. Kembali ke meja perundingan, bahkan di tempat yang sama seperti putaran sebelumnya, menunjukkan upaya untuk tetap berkomunikasi.
Namun, sinyal dari Washington begitu jelas: ini adalah diplomasi yang diwarnai ultimatum. Presiden Trump, yang berbicara di Air Force One setelah pertemuan, menyebut negosiasi berjalan ‘sangat baik’ dan percaya Iran sangat menginginkan kesepakatan. Namun, ia juga menambahkan, “Mereka tahu konsekuensinya jika tidak. Jika tidak ada kesepakatan, konsekuensinya sangat berat.”
Situasi ini sangat rentan. Mengingat AS menarik diri dari kesepakatan nuklir JCPOA 2015 pada 2018 lalu, fondasi kepercayaan antara kedua negara sudah sangat tipis. Diplomasi yang dibayangi kekuatan militer seperti ini mungkin menciptakan urgensi, tetapi hampir mustahil membangun kepercayaan—elemen paling krusial untuk kesepakatan jangka panjang. Bagi masyarakat dunia, terutama di Timur Tengah, kondisi ini berarti ketidakpastian yang berkelanjutan, risiko eskalasi konflik yang membayangi, dan stabilitas regional yang terus diuji.