AGEN PROPERTI INGGRIS INCAR MAHASISWA CHINA JUAL RUMAH KE ASIA - Berita Dunia
← Kembali

AGEN PROPERTI INGGRIS INCAR MAHASISWA CHINA JUAL RUMAH KE ASIA

Foto Berita

Cambridge, Inggris – Sebuah agen properti di Cambridge, Pure Living, memasang iklan lowongan kerja berbahasa Mandarin di etalase tokonya. Mereka mencari mahasiswa China yang melek teknologi untuk membantu memasarkan properti di Inggris kepada pembeli di China daratan dan Hong Kong. Agen ini ingin memanfaatkan platform media sosial populer di Asia, seperti WeChat dan Xiaohongshu, untuk menjangkau pasar tersebut.

Ray Yu, salah satu pemilik Pure Living, mengungkapkan bahwa salah satu perumahan di Cambridge bahkan dijuluki 'mini-China' karena sangat populer di kalangan pembeli Asia Timur. Menurut Yu, properti di Inggris dianggap sebagai investasi yang aman dengan imbal hasil yang cukup tinggi dibandingkan negara lain. Daya tarik lainnya adalah tingkat kejahatan yang rendah, kedekatan dengan London, dan kualitas sekolah yang baik.

Dalam masa tersibuknya, agen ini bisa menjual 15-20 rumah per bulan kepada pembeli di luar negeri. Yu mengakui pengetahuannya tentang aplikasi sosial media China terbatas, sehingga ia membutuhkan tenaga ahli yang tinggal di Cambridge untuk membantu strategi pemasaran. Properti yang paling banyak dicari adalah rumah baru karena dianggap mudah dikelola.

Langkah ini menuai kritik dari kalangan lokal. Elliot Tong, perwakilan Partai Hijau di Dewan Kota Cambridge, menegaskan bahwa rumah seharusnya untuk tempat tinggal, bukan untuk portofolio investasi. Ia khawatir praktik ini akan membuat spekulan properti semakin menguasai pasar dan menyulitkan keluarga pekerja lokal untuk memiliki rumah.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Yu berdalih bahwa kenaikan biaya konstruksi sejak pandemi Covid-19 memiliki dampak lebih besar terhadap harga properti dibandingkan pembelian oleh warga asing. Ia juga mengklaim bahwa properti di Cambridge masih terbuka untuk semua pembeli, baik lokal maupun luar negeri.

Pure Living sendiri didirikan pada tahun 2019, saat gelombang protes pro-demokrasi melanda Hong Kong. Yu mengakui bahwa eksodus besar-besaran warga Hong Kong ke Inggris saat itu turut mendongkrak bisnisnya. Kini, perusahaan tersebut mulai menjajaki pasar China daratan yang dinilai memiliki potensi besar.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook