Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengeluarkan peringatan keras bahwa keamanan energi global berada dalam ancaman serius jika situasi di Selat Hormuz tidak segera membaik. Birol menekankan dunia harus khawatir dan waspada dalam beberapa pekan ke depan jika tidak ada perbaikan berarti.
Peringatan ini muncul setelah Amerika Serikat (AS) meningkatkan serangan terhadap Iran selama enam malam berturut-turut. Serangan AS menghantam kota-kota pesisir Iran seperti Bandar Abbas, Ahvaz, dan Iranshahr, serta menembaki kapal yang dituduh mencoba menerobos blokade angkatan laut yang diterapkan kembali oleh Washington. Iran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Yordania, serta target di Kuwait, Bahrain, dan Qatar.
Iran masih menutup Selat Hormuz dengan alasan kurangnya komitmen AS terhadap nota kesepahaman (MoU) yang diteken di Pakistan sebulan lalu. Juru bicara militer Iran, Abolfazl Shekarchi, menegaskan situasi di Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang. Selat strategis ini sepenuhnya berada dalam kedaulatan Iran dan Oman, dan mereka menolak campur tangan pihak asing, terutama AS.
Dampak dari konflik ini sangat nyata. Harga minyak mentah dunia diprediksi melonjak drastis jika jalur pengiriman minyak utama ini lumpuh total. Selat Hormuz menangani sekitar seperlima konsumsi minyak global. Jika gangguan berlanjut, negara-negara importir minyak seperti Indonesia akan merasakan dampaknya langsung pada harga bahan bakar dan stabilitas ekonomi.