Pembukaan kembali Lintasan Rafah, gerbang utama yang menghubungkan Jalur Gaza dengan dunia luar, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Alih-alih meredakan isolasi, pasukan Israel justru semakin memperketat pembatasan, menyulitkan ribuan warga Palestina untuk keluar-masuk serta membatasi barang-barang esensial yang masuk.
Padahal, dibukanya kembali Rafah diharapkan dapat menjadi angin segar setelah Jalur Gaza menghadapi blokade ketat Israel selama 18 bulan terakhir. Namun, kenyataannya, bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan masih dibatasi, dan ribuan orang terus tertahan, tidak bisa melintas. Kondisi ini secara langsung memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza, membuat warga semakin terisolasi dan kesulitan mendapatkan akses dasar yang mereka butuhkan. Situasi ini menunjukkan bahwa meski 'dibuka', kendali ketat Israel masih membelenggu pergerakan dan pasokan vital bagi penduduk Gaza.