Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui Kedutaan Besarnya di Polandia mengambil langkah mengejutkan: memutus semua kontak dengan Ketua Parlemen Polandia, Wlodzimierz Czarzasty. Keputusan tegas ini diambil setelah Czarzasty melontarkan kritik pedas yang dinilai "keterlaluan" terhadap mantan Presiden AS Donald Trump.
Duta Besar AS untuk Polandia, Tom Rose, Kamis kemarin langsung mengumumkan pemutusan hubungan ini berlaku efektif seketika. Rose menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan siapa pun merusak hubungan kedua negara atau merendahkan martabat Trump, yang menurutnya telah banyak berjasa bagi Polandia.
Apa sebenarnya yang membuat AS sampai berang? Pekan ini, Czarzasty mengklaim Trump tidak layak mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian yang sudah lama diincarnya. Ia juga mengecam "kebijakan paksaan" Trump dalam urusan internasional, menyoroti tarif yang dikenakan pada negara-negara Eropa, ancaman untuk mencaplok Greenland, hingga tudingan bahwa sekutu NATO absen dari garis depan perang di Afghanistan. "Ini pelanggaran terhadap politik berprinsip dan nilai-nilai, seringkali pelanggaran hukum internasional," kata Czarzasty.
Namun, Czarzasty tidak gentar. Meski menyatakan menghormati AS sebagai sekutu penting, ia bersikukuh pada pandangannya bahwa Trump tidak pantas menerima penghargaan perdamaian tertinggi dunia. "Saya menyesali pernyataan Duta Besar Tom Rose, tapi saya tidak akan mengubah posisi saya terkait isu-isu fundamental ini," tulis Czarzasty di X.
Ini bukan kali pertama Czarzasty, yang mengepalai partai New Left dan menjadi bagian koalisi pro-Eropa Perdana Menteri Donald Tusk, bersikap kritis terhadap Trump. Sebelumnya, ia pernah mengkritik komentar Trump yang menyebut AS "tidak pernah membutuhkan" sekutu NATO. Ironisnya, 43 tentara Polandia dan satu pegawai sipil tewas dalam koalisi pimpinan AS di Afghanistan. Situasi ini semakin rumit mengingat Presiden Polandia saat ini, Karol Nawrocki, adalah seorang nasionalis dan pendukung vokal Trump, menandakan adanya polarisasi pandangan di internal pemerintahan Polandia sendiri.
Tindakan diplomatik keras ini menunjukkan sensitivitas tinggi AS terhadap kritik terhadap mantan pemimpinnya, terutama ketika melibatkan sekutu. Pemutusan hubungan ini berpotensi menimbulkan ketegangan diplomatik dan memperkeruh iklim politik Polandia, di mana pemerintah koalisi pro-Eropa berhadapan dengan presiden nasionalis yang pro-Trump. Ke depannya, bukan tidak mungkin insiden ini memengaruhi dinamika hubungan bilateral AS-Polandia yang selama ini terbilang kuat, serta stabilitas internal Polandia sendiri.