Tiga tahun berlalu sejak serangan 7 Oktober, namun luka psikologis yang dialami masyarakat Israel kian menganga. Data terbaru dari National Mental Health Barometer mengungkap fakta mencengangkan: satu dari lima warga Israel mengaku kesulitan menjalani aktivitas harian akibat gangguan kesehatan mental.
Yang lebih memprihatinkan, kunjungan darurat psikiatri anak dan remaja melonjak hingga 121 persen dibandingkan masa sebelum perang. Sementara itu, sepertiga populasi merasa butuh penanganan profesional, dan 35 persen mengaku sulit membangun hubungan dekat dengan orang lain.
Di balik angka-angka itu, ada kisah pilu keluarga Ben Arye. Irit Ben Arye menceritakan bagaimana suaminya, Haim, seorang sopir bus berusia 52 tahun, pulang dalam kondisi menangis setelah mengevakuasi korban dari Kibbutz Be'eri. Dua minggu kemudian, ia mengakhiri hidupnya sendiri. Kini Irit berjuang agar delapan anaknya mau terbuka soal luka batin mereka.
Ancaman rudal dan serangan udara yang silih berganti membuat rutinitas sehari-hari berubah menjadi kalkulasi soal lokasi perlindungan dan kemungkinan serangan berikutnya. Para ahli memperingatkan bahwa dampak jangka panjang trauma ini bisa menggerus kohesi sosial dan produktivitas masyarakat Israel jika tidak ditangani serius.