Kanselir Jerman Friedrich Merz mengungkap bahwa aktivitas intelijen Rusia di negaranya masih berada di level yang 'konsisten tinggi'. Pernyataan ini muncul setelah penangkapan seorang warga Ukraina yang diduga menjadi mata-mata Rusia.
Tersangka berinisial Vadym Y. itu diduga kuat mengumpulkan informasi rahasia militer Jerman. Menurut Kantor Kejaksaan Federal Jerman, ia sudah berkomunikasi dengan dinas intelijen Rusia melalui perantara sejak Juli 2025. Informasi yang dicari pun cukup sensitif, mulai dari produksi kendaraan lapis baja, amunisi, hingga bahan peledak.
Merz menyebut pengungkapan kasus ini sebagai sebuah 'kesuksesan'. Namun ia langsung memberi peringatan keras agar publik tidak lengah. 'Jangan sampai kita menipu diri sendiri, aktivitas dinas intelijen Rusia di Jerman tetap berada di level yang konsisten tinggi,' ujarnya, dikutip dari BBC.
Sepanjang tahun ini saja, Jerman sudah menangkap beberapa orang yang diduga bekerja untuk Rusia. Mulai dari seorang perempuan di Berlin yang diduga mengumpulkan data untuk petugas intelijen di Kedutaan Rusia, hingga kasus mantan kepala intelijen Jerman (BND) August Hanning yang ditangkap atas tuduhan spionase dan pengkhianatan.
Analisis singkat: Gelombang penangkapan ini menjadi sinyal bahaya bagi stabilitas keamanan Eropa. Sebagai salah satu pemasok senjata terbesar untuk Ukraina, Jerman memang menjadi target empuk operasi intelijen Moskow. Bagi masyarakat Jerman, eskalasi spionase ini bisa memicu ketegangan sosial dan memperketat pengawasan negara terhadap warga asing. Merz bahkan memprediksi kasus serupa akan terus bermunculan di bulan-bulan mendatang, seiring dengan meningkatnya ancaman serangan hibrida.