Petani zaitun di Lebanon selatan kini berjuang di bawah bayang-bayang konflik. Setiap kali musim panen tiba, mereka harus mempertaruhkan nyawa untuk merawat kebun yang menjadi sumber penghidupan keluarga. Situasi ini semakin rumit sejak Israel memperluas pendudukannya di wilayah selatan Lebanon.
Khaled Farhat, seorang petani sekaligus guru di Desa Majdel Selm, mengungkapkan bahwa untuk mencapai kebun zaitunnya yang berjarak hanya 20 menit dari perbatasan Israel, ia harus mengurus izin khusus. Prosesnya berlapis: mulai dari pemerintah desa, diteruskan ke Tentara Lebanon, hingga akhirnya dikoordinasikan melalui mekanisme perjanjian trilateral antara Amerika Serikat, Israel, dan Lebanon. Tanpa izin itu, petani tidak bisa mengakses lahan mereka sendiri.
Lebih mengerikan lagi, ancaman maut tidak hanya datang dari pembatasan akses. Drone Israel dilaporkan terus berputar di langit, sementara serangan artileri dan jet tempur masih sering terdengar. Para petani juga dihantui rasa takut terhadap bom kluster dan amunisi sisa perang yang mungkin masih berserakan di tanah perkebunan. Belum lama ini, sebuah peluru artileri Israel dilaporkan jatuh tak jauh dari lokasi Farhat bekerja.
Dampak kerusakan lingkungan juga sangat masif. Menteri Lingkungan Hidup Lebanon, Tamara Elzein, mencatat lebih dari 16.000 hektare lahan telah hangus terbakar sejak Oktober 2023, sebagian diduga akibat penggunaan fosfor putih yang sangat mudah terbakar. Profesor Ramy Zurayk dari American University of Beirut menilai strategi ini sebagai upaya sistematis untuk membuat wilayah selatan Lebanon menjadi "steril"—menghilangkan unsur kehidupan dan memutus ikatan masyarakat dengan tanah mereka.
Dengan sekitar 630 kilometer persegi wilayah Lebanon selatan masih dalam pendudukan, masa depan sektor pertanian—terutama komoditas zaitun yang menjadi simbol budaya Lebanon—berada di ujung tanduk. Para petani hanya diberi jendela waktu sangat singkat, sekitar dua minggu, untuk memanen, itupun dengan risiko keselamatan yang tinggi.