JAKARTA - Tiga tahun berlalu sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, namun dampaknya masih terasa mendalam dan mengubah lanskap politik Israel secara fundamental. Momen tersebut menjadi garis pemisah dalam sejarah modern negara itu, memicu trauma kolektif yang meluas di kalangan masyarakat Israel.
Menurut para pengamat, rasa trauma ini kemudian diperkuat oleh retorika politik dan histeria media yang mencapai level belum pernah terjadi sebelumnya. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan kekuatan sayap kanan disebut memanfaatkan ketakutan publik untuk memperkuat posisi politik mereka, sekaligus mengesampingkan upaya perdamaian.
Dampak paling nyata terlihat dari pergeseran politik Israel yang semakin ke kanan. Berbagai survei menunjukkan mayoritas warga Israel kini mendukung kebijakan garis keras, termasuk perluasan permukiman ilegal di Tepi Barat dan tindakan militer agresif. Bahkan, survei pada Mei 2025 mencatat dukungan signifikan terhadap pengusiran warga Gaza.
Selain itu, doktrin superioritas militer Israel yang sebelumnya dianggap tak terkalahkan runtuh setelah serangan tersebut. Kini, Israel menghadapi isolasi internasional yang meningkat akibat operasi militernya di Gaza dan Tepi Barat yang telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina.
Para sosiolog menilai, ruang dialog dan solusi dua negara semakin tergerus. Trauma 7 Oktober telah mengubah cara pandang masyarakat Israel terhadap konflik, menciptakan polarisasi yang lebih tajam dan mempersulit jalan menuju perdamaian di kawasan.