KONTROVERSI SENSOR BUKU DI KASHMIR, ANTI-TERORIS ATAU HAPUS SEJARAH? - Berita Dunia
← Kembali

KONTROVERSI SENSOR BUKU DI KASHMIR, ANTI-TERORIS ATAU HAPUS SEJARAH?

Foto Berita

SRINAGAR, KASHMIR – Pemerintah setempat di Kashmir, wilayah yang dikelola India, mengeluarkan perintah kontroversial yang mewajibkan semua lembaga pendidikan untuk menyaring buku-buku dan materi akademis. Langkah ini memicu perdebatan sengit antara pihak berwenang yang mengklaim sebagai upaya memberantas konten terorisme, melawan suara-suara yang menuduhnya sebagai upaya sistematis untuk menghapus sejarah kelam wilayah tersebut.

Perintah yang dikeluarkan pekan lalu itu mewajibkan sekolah, perguruan tinggi, universitas, hingga pusat bimbingan belajar untuk memeriksa seluruh bahan bacaan, termasuk tesis dan jurnal penelitian. Materi yang dianggap 'tidak pantas dan berbahaya' harus dilaporkan ke otoritas. Pemerintah setempat beralasan langkah ini diperlukan untuk menyaring konten yang dianggap 'memuliakan, membenarkan, atau mempromosikan terorisme, separatisme, dan ekstremisme kekerasan' yang mengancam keamanan nasional India.

Namun, langkah ini langsung mendapat tentangan keras dari partai oposisi, akademisi, dan mahasiswa. Mereka menilai kebijakan ini adalah bentuk sensor yang melanggar kebebasan akademik dan merupakan upaya untuk 'menulis ulang sejarah' Kashmir yang penuh gejolak. Sejak New Delhi mencabut status otonomi khusus Kashmir pada tahun 2019, kritik terhadap penyempitan ruang sipil dan meluasnya kontrol negara terus meningkat, meskipun pemerintah daerah setempat sudah kembali terbentuk.

Kontroversi ini dipicu oleh protes partai BJP (penguasa pusat India) terhadap dua buku di perpustakaan sekolah yang dianggap mengagungkan pemimpin separatis. Akibatnya, tiga orang yang terkait dengan penerbitan buku tersebut ditangkap, dan delapan pejabat dinas pendidikan diskors. Perintah penyaringan massal ini kemudian dikeluarkan menyusul insiden tersebut, meskipun kriteria pasti tentang apa yang disebut 'konten berbahaya' masih belum didefinisikan secara jelas oleh komite yang dibentuk.

Analisis Dampak: Kebijakan ini berpotensi menciptakan efek dingin (chilling effect) di kalangan akademisi Kashmir. Ketidakjelasan definisi 'konten terlarang' membuat para penulis dan penerbit khawatir untuk menerbitkan karya yang membahas sejarah konflik atau identitas lokal. Di sisi lain, pemerintah India menegaskan langkah ini penting untuk menjaga stabilitas keamanan di wilayah yang rawan konflik dan mencegah radikalisasi di kalangan generasi muda. Persoalan ini menjadi ujian besar bagi keseimbangan antara keamanan nasional dan hak atas kebebasan intelektual.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook