Jakarta - Perusahaan kecerdasan buatan (AI) raksasa, Anthropic, yang menaungi chatbot populer Claude, secara resmi mengajukan dokumen rahasia untuk melantai di bursa efek Amerika Serikat (IPO). Langkah ini dinilai bakal menjadi momen penting yang menguji seberapa besar 'dahaga' investor terhadap gelombang AI di Wall Street.
Pengumuman ini dilakukan pada Senin (12/5/2025) waktu setempat. Meski demikian, Anthropic masih bungkam soal jumlah saham yang ditawarkan dan nilai transaksinya. Kerahasiaan ini merupakan strategi umum agar perusahaan bisa mematangkan persiapan IPO tanpa membocorkan data sensitif ke pesaing.
Yang menarik, langkah ini terjadi hanya beberapa pekan setelah SpaceX milik Elon Musk mengumumkan IPO raksasa senilai USD 75 miliar. Kini, tiga perusahaan teknologi terpanas di dunia—OpenAI, Anthropic, dan SpaceX—bersiap berebut kue investor di pasar publik. “OpenAI dan Anthropic sedang berlomba untuk go public sebelum modal mereka habis,” ujar analis Gil Luria dari DA Davidson.
Anthropic yang lahir pada 2021 dari mantan petinggi OpenAI ini, terakhir kali menggalang dana sebesar USD 65 miliar pada akhir Mei 2025 dengan valuasi mengejutkan: USD 965 miliar. Angka itu bahkan melampaui valuasi rival utamanya, OpenAI. Pendapatan tahunan mereka juga tembus USD 47 miliar dari penjualan teknologi Claude untuk coding dan tugas kantor.
Analisis Dampak: Langkah ini bukan sekadar pesta go public biasa. IPO Anthropic berpotensi memicu gejolak di pasar saham teknologi. Seperti diberitakan Reuters, kekhawatiran akan 'gelembung AI' (AI bubble) kembali mencuat karena ketiga perusahaan ini masih membukukan kerugian lebih besar ketimbang keuntungan. Jika IPO Anthropic sukses, ini bisa menjadi katalis positif bagi startup AI lain. Namun jika gagal, bisa memicu aksi jual besar-besaran (sell-off) di sektor teknologi global, termasuk yang terdaftar di bursa Indonesia.