Serangan besar-besaran Rusia kembali mengguncang Ukraina. Dalam gelombang serangan yang menyasar sembilan wilayah sekaligus, sedikitnya delapan orang tewas dan 60 lainnya luka-luka. Serangan ini tidak hanya menghantam pusat perbelanjaan, tetapi juga melumpuhkan jaringan listrik yang membuat lebih dari satu juta orang hidup dalam kegelapan.
Dampak paling mematikan terjadi di Kharkiv. Gubernur setempat melaporkan seorang wanita berusia 71 tahun dan seorang pria 58 tahun tewas, sementara 12 warga lainnya terluka akibat serangan di tiga distrik. Korban jiwa juga berjatuhan di Kramatorsk dan wilayah Dnipropetrovsk. Di wilayah Volyn yang berbatasan dengan Polandia, serangan drone menghantam fasilitas pengolahan makanan dan menewaskan satu orang. Drone juga dilaporkan membakar sekitar 10 truk di terminal bea cukai Kovel, jalur utama penghubung Kyiv ke Polandia.
Selain korban jiwa, infrastruktur energi menjadi target utama. Di Rivne, serangan drone merusak pusat perbelanjaan besar dan memutus aliran listrik di sebagian besar wilayah. Tim perbaikan darurat telah berupaya memulihkan pasokan listrik ke lebih dari satu juta pelanggan, meski di Kota Lutsk pemadaman diperkirakan berlangsung hingga 24 jam. Sementara itu, Panglima Militer Rusia dilaporkan telah melaporkan kepada Presiden Vladimir Putin bahwa aset militer telah dialokasikan untuk melanjutkan kampanye udara terhadap sistem energi Ukraina.
Di tengah eskalasi ini, data PBB menunjukkan lonjakan korban sipil yang sangat tajam. Setidaknya 328 warga sipil tewas dan 2.105 luka-luka pada bulan lalu, angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kepala pemantau HAM PBB di Ukraina menyebut dua minggu pertama Oktober sebagai periode paling mematikan bagi warga sipil. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran besar, terutama menjelang musim dingin di mana akses listrik dan pemanas menjadi kebutuhan vital bagi kelangsungan hidup masyarakat.