KRISIS PANGAN MENGANCAM, PUPUK TERSUMBAT DI HORMUZ - Berita Dunia
← Kembali

KRISIS PANGAN MENGANCAM, PUPUK TERSUMBAT DI HORMUZ

Foto Berita

JAKARTA - Dunia tengah menahan napas. Seorang pejabat senior PBB memperingatkan bahwa sebagian wilayah Asia dan Afrika terancam krisis pangan jika Iran dan Amerika Serikat (AS) tidak segera mencapai kesepakatan soal jalur pupuk di Selat Hormuz. Situasi ini semakin mendesak karena musim tanam sudah di depan mata.

Jorge Moreira da Silva, Wakil Sekretaris Jenderal PBB, menegaskan bahwa kesepakatan dalam hitungan minggu ini sangat krusial. Rencananya, PBB akan membentuk pusat koordinasi di Oman untuk mengawal kapal-kapal yang membawa bahan baku pupuk agar bisa melintas dengan aman. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital, di mana sebelum konflik meletus, sekitar sepertiga pengiriman urea global dan hampir setengah pasokan sulfur laut dunia melewati perairan tersebut.

Namun, sejak pecahnya perang antara AS-Israel melawan Iran, lalu lintas di sana lumpuh total. Iran menargetkan kapal-kapal yang melintas, sementara AS dan Iran saling baku tembak di sekitar jalur tersebut. Akibatnya, pasokan pupuk urea dan sulfur—yang menjadi bahan baku utama pertanian—terhambat parah. Data International Food Policy Research Institute (IFPRI) menunjukkan bahwa produk pupuk hanya menyumbang sebagian kecil dari kargo yang bergerak, sementara kapal lain lebih memilih menghindar.

Moreira da Silva menjelaskan bahwa mekanisme yang diusulkan PBB bisa aktif dalam 7-10 hari jika kedua negara setuju. Nantinya, pemantau PBB akan bekerja sama dengan otoritas pelabuhan Teluk untuk memverifikasi muatan, melacak kapal selama transit, dan melakukan inspeksi tambahan jika ada kekhawatiran. Ia juga menyebut hanya dengan meloloskan lima kapal per hari, pasokan pupuk ke negara-negara kritis bisa tetap terjaga.

Sayangnya, hingga kini baik Iran maupun AS belum menyetujui proposal tersebut. Negosiasi untuk membuka kembali Selat Hormuz masih mandek akibat syarat dari Teheran dan desakan Washington soal program nuklir Iran. PBB sendiri menegaskan bahwa mekanisme pupuk ini bisa berjalan berdampingan dengan negosiasi kesepakatan komprehensif yang tengah berlangsung.

Dampak bagi Masyarakat: Jika kesepakatan gagal, petani di Asia dan Afrika akan kesulitan mendapatkan pupuk tepat waktu. Hal ini bisa menurunkan hasil panen secara drastis, memicu lonjakan harga pangan, dan memperburuk kerawanan pangan di negara-negara berkembang. Masyarakat di seluruh dunia juga berpotensi merasakan kenaikan harga bahan pokok akibat gangguan rantai pasok global ini.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook