Konflik berkepanjangan selama tiga tahun terakhir telah mengubah wajah Timur Tengah secara drastis. Jaringan aliansi yang selama ini menjadi tulang punggung kekuatan Iran kini porak-poranda, sementara Israel justru memperluas pengaruhnya meski harus menanggung harga mahal berupa isolasi global.
Sejak serangan 7 Oktober dan perang Gaza yang menyusul, lanskap geopolitik kawasan bergeser total. Israel berhasil melumpuhkan banyak pemimpin utama Hamas dan Hezbollah, bahkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam sebuah operasi pada Februari lalu. Namun, kemenangan militer ini tidak datang gratis. Israel kini dijauhi sekutu tradisionalnya dan semakin tidak populer di mata dunia, termasuk di Amerika Serikat.
Dampak paling signifikan adalah runtuhnya kepercayaan terhadap AS sebagai penjamin keamanan tunggal di kawasan. Serangan drone dan rudal yang menghantam infrastruktur gas di Qatar serta fasilitas minyak di Fujairah menunjukkan bahwa payung keamanan AS tidak lagi sakti. Negara-negara Teluk kini mulai mencari alternatif, seperti terlihat dari terbentuknya Pakta Keamanan Mekah antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan pada Agustus lalu.
Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman justru menjadi satu-satunya pihak yang berhasil memperkuat posisinya. Mereka kini menguasai pelabuhan Mocha dan mengancam Selat Bab al-Mandeb, jalur vital perdagangan global. Situasi ini diperparah dengan keterlibatan AS dalam perang melawan Iran, yang semakin memperumit stabilitas keamanan di seluruh kawasan.