Ketegangan di kota Hebron, Tepi Barat, memanas drastis. Lebih dari 3.000 warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Israel sejak Jumat lalu. Langkah ini dipicu oleh insiden penembakan yang menewaskan dua tentara Israel di kawasan tersebut.
Otoritas setempat mencatat, sebanyak 488 keluarga—yang terdiri dari 3.171 jiwa—telah mengungsi di wilayah Hebron dan sekitarnya. Ironisnya, mayoritas dari mereka yang terusir adalah perempuan, anak-anak, dan lansia. Tidak hanya pengusiran, tentara Israel juga dilaporkan meratakan bangunan residensial, pabrik, hingga memblokir akses jalan warga.
Yang lebih memprihatinkan, puluhan rumah warga yang kosong kini dialihfungsikan militer Israel menjadi barak tentara dan pusat interogasi lapangan. Pengamat menilai tindakan ini bukan sekadar operasi keamanan biasa, melainkan upaya sistematis untuk menciptakan 'realitas baru' di lapangan. Situasi ini diperparah dengan penangkapan massal terhadap sedikitnya 71 orang dalam empat hari terakhir, serta meningkatnya aksi kekerasan pemukim ilegal menjelang pemilu Israel.