Jakarta – Dunia hiburan Prancis kembali diguncang skandal pelecehan seksual. Patrick Bruel, penyanyi dan aktor legendaris berusia 67 tahun, resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam penyelidikan yudisial atas dugaan pemerkosaan dan kekerasan seksual. Penetapan ini menjadi babak baru dalam gerakan Me Too yang terus bergulir di Prancis.
Bruel ditahan selama dua hari di Nanterre, pinggiran barat Paris, sebelum akhirnya menjalani pemeriksaan di hadapan empat hakim pada Rabu malam. Hakim mengabulkan permintaan jaksa untuk menetapkan Bruel dalam penyelidikan atas beberapa kasus, termasuk pemerkosaan, percobaan pemerkosaan, dan pelecehan seksual. Meski demikian, Bruel dibebaskan dari tahanan dengan pengawasan yudisial, bukan ditahan seperti yang diminta jaksa.
Dari sembilan dugaan pelanggaran yang diajukan jaksa, hakim memproses empat tuduhan secara formal, yaitu satu kasus pemerkosaan pada 2008, satu percobaan pemerkosaan pada 2010, serta dua kasus pelecehan seksual pada 2019. Dalam proses hukum Prancis, status 'penyelidikan yudisial' berarti hakim pemeriksa akan mendalami kasus ini lebih lanjut, dan biasanya berujung pada persidangan.
Bruel dengan tegas membantah semua tuduhan. Namun, ia dikenakan sejumlah larangan: tidak boleh meninggalkan wilayah Prancis, tidak boleh menghubungi korban atau keluarganya, dan dilarang mengunjungi panti pijat. Larangan terakhir terkait salah satu tuduhan pelecehan yang terjadi di Korsika.
Kasus ini menambah panjang daftar selebritas Prancis yang tersandung skandal seksual, setelah aktor Gérard Depardieu yang dihukum tahun lalu. Bruel, yang namanya melambung pada era 1980-an dengan julukan 'Bruelmania', kini harus menghadapi kenyataan pahit. Semua jadwal konsernya di Prancis, Belgia, Swiss, dan Kanada terpaksa dibatalkan.
Analisis Dampak: Kasus Bruel menjadi puncak gunung es dari resistensi industri hiburan Prancis terhadap gerakan Me Too. Berbeda dengan Depardieu yang lebih senior, Bruel adalah ikon pop yang dekat dengan generasi milenial Prancis. Penetapan tersangka ini menunjukkan bahwa sistem peradilan Prancis mulai serius menindaklanjuti laporan kekerasan seksual, meski pelakunya adalah figur publik. Di sisi lain, publik mulai mempertanyakan efektivitas pengawasan yudisial, karena Bruel tetap bebas meski ada sembilan laporan. Kasus ini juga memicu perdebatan tentang batas waktu (statute of limitations) dan tantangan pembuktian dalam kasus pelecehan historis.