Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendapat perintah tegas dari hakim federal untuk menjalani interogasi di bawah sumpah terkait gugatannya senilai $10 miliar terhadap BBC. Keputusan ini menjadi babak baru dalam sengketa hukum yang berpusat pada dokumenter kontroversial tentang dirinya.
Hakim Enjolique Lett memerintahkan Trump untuk bersedia diwawancarai oleh tim pengacara BBC paling lambat 11 Desember mendatang. Jika gagal memenuhi panggilan tersebut, Trump menghadapi risiko sanksi berat, termasuk pembatalan gugatannya. Pengadilan juga menolak permintaan tim kuasa hukum Trump untuk menunda interogasi hingga Januari dan menolak upaya mencegah proses tersebut direkam.
Kasus ini bermula dari gugatan Trump pada 15 Desember 2025 di pengadilan federal Florida. Ia menuntut ganti rugi minimal $5 miliar atas tuduhan pencemaran nama baik dan $5 miliar lainnya terkait pelanggaran Undang-Undang Praktik Perdagangan Menipu Florida. Trump menuding dokumenter BBC Panorama yang tayang jelang Pilpres 2024 telah merusak reputasinya dengan menampilkan dirinya seolah-olah mendukung kekerasan dalam insiden Capitol 6 Januari 2021.
Pihak BBC sendiri telah meminta maaf atas cara pengeditan program tersebut, namun menegaskan bahwa Trump tidak memiliki dasar hukum yang kuat untuk klaim pencemaran nama baik. BBC juga menantang yurisdiksi pengadilan Florida dengan alasan dokumenter itu diproduksi di London dan tidak pernah disiarkan secara resmi di AS.
Analisis Dampak: Perintah pengadilan ini menegaskan bahwa status sebagai kepala negara tidak memberikan kekebalan mutlak dalam proses hukum perdata. Bagi publik, kasus ini menjadi ujian transparansi bagi Trump dalam menghadapi tuduhan yang ia lontarkan sendiri. Jika ia mangkir, kredibilitas gugatannya dipertaruhkan. Sebaliknya, jika ia hadir dan jawabannya di bawah sumpah berubah-ubah, hal ini bisa menjadi amunisi bagi BBC untuk membantah klaim defamasi. Proses discovery ini juga berpotensi membuka dokumen internal yang selama ini tertutup, memberikan gambaran lebih jelas tentang bagaimana Trump dan timnya merespons pemberitaan kritis menjelang pemilu.