Kyiv, Ukraina – Warga Ukraina kini menghadapi risiko kematian yang jauh lebih tinggi akibat serangan rudal balistik Rusia. Pasalnya, sistem peringatan dini yang biasanya memberikan waktu evakuasi selama 10 menit kini lumpuh total. Hal ini terjadi setelah intelijen satelit NATO yang mendeteksi peluncuran rudal tidak lagi dibagikan kepada Kyiv, sebuah langkah yang diduga kuat terkait dengan tekanan politik dari Presiden AS Donald Trump.
Tanpa data satelit tersebut, sirene serangan udara sering kali baru berbunyi beberapa detik sebelum atau sesaat setelah rudal menghantam target. Akibatnya, warga sipil tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri ke bunker. Serangan bertubi-tubi dalam sepekan terakhir telah menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai puluhan lainnya, menghantam gedung apartemen hingga pembangkit listrik.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa bantuan intelijen ini sangat krusial untuk mencegah korban jiwa. Meski Trump membantah menghentikan aliran data tersebut, para pengamat militer Ukraina melihat ada motif politik di baliknya. Trump diduga tengah menekan Kyiv agar menyetujui 'gencatan senjata energi' dengan Moskow demi menurunkan harga minyak global menjelang pemilu paruh waktu di AS.
Dampak dari situasi ini tidak hanya pada pertahanan udara, tetapi juga menurunkan akurasi serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia. Sementara itu, kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan Trump secara sepihak menuai kebingungan, karena Moskow terus melancarkan serangan ke infrastruktur energi Ukraina meski klaim gencatan senjata telah disepakati.