Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melancarkan operasi penegakan imigrasi terbarunya. Kali ini, targetnya adalah negara bagian Maine di wilayah timur laut. Operasi yang diberi nama "Operation Catch of the Day" ini dikonfirmasi oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri pada Rabu lalu, dengan penangkapan yang sudah dimulai sejak sehari sebelumnya. Namun, di balik alasan resmi penegakan hukum, banyak pihak menduga operasi ini punya motif politik yang kuat, bahkan mengarah ke diskriminasi.
Seorang juru bicara pemerintahan Trump, Tricia McLaughlin, secara terbuka menyatakan bahwa tindakan ini merupakan respons terhadap Gubernur Maine, Janet Mills, seorang Demokrat. Mills dan "politisi suaka" lainnya di Maine dituding lebih memilih melindungi 'imigran ilegal kriminal' daripada warga negara Amerika yang patuh hukum.
Namun, rumor yang beredar jauh lebih dalam. Maine diduga menjadi sasaran karena populasi Somali-Amerika yang signifikan, terutama di kota Portland dan Lewiston. Diperkirakan ada sekitar 3.000 warga Somali-Amerika di negara bagian tersebut. Trump sendiri telah berulang kali mengecam komunitas Somali, bahkan menyebut mereka 'sampah' dalam rapat kabinet Desember lalu dan 'orang-orang ber-IQ sangat rendah' belum lama ini. Retorika rasis dan anti-imigran memang sudah menjadi ciri khas kampanye Trump, di mana ia sering menargetkan kelompok tertentu seperti Haiti dan Meksiko, mengaitkan identitas imigran mereka dengan aktivitas kriminal.
Fokus Trump pada komunitas Somali ini muncul setelah beberapa anggota komunitas tersebut terlibat dalam skandal penipuan di Minnesota, negara bagian lain di mana operasi imigrasi serupa juga dilancarkan Desember lalu. Di sana, operasi tersebut diwarnai bentrokan kekerasan antara agen federal dan demonstran, bahkan menyebabkan seorang wanita tewas tertembak. Kekhawatiran akan ketegangan serupa melanda Maine.
Wali Kota Portland, Mark Dion, mengungkapkan bahwa komunitas imigran di wilayahnya merasa sangat 'cemas dan takut' dengan dimulainya operasi ICE ini. Mereka melihat tindakan ini 'tidak terduga dan ancaman bagi keluarga mereka'. Dion juga mempertanyakan apakah pendekatan 'ala paramiliter' benar-benar diperlukan untuk mengatasi pelanggaran imigrasi. Ia mendesak ICE untuk mengadopsi taktik yang berbeda dari yang diterapkan di Minnesota. 'Meskipun kami menghormati hukum, kami menantang kebutuhan akan pendekatan paramiliter untuk penegakan undang-undang federal,' tegas Dion, menekankan kekhawatiran dewan kota terhadap taktik penegakan hukum ICE di komunitas lain.