Program dokter Kuba yang telah menjadi tulang punggung diplomasi dan sumber miliaran dolar bagi Havana kini di ujung tanduk. Guatemala, salah satu negara penerima manfaat, memutuskan untuk mengakhiri kerja sama yang telah berjalan tiga dekade, menyusul tekanan tak kasat mata dari Amerika Serikat.
Guatemala secara mengejutkan mengumumkan akan mengakhiri program penempatan dokter Kuba yang telah berlangsung selama tiga dekade. Keputusan ini bukan sekadar penataan ulang sistem kesehatan, melainkan sinyal kuat atas dampak tekanan Amerika Serikat (AS) yang kian menjadi-jadi terhadap Kuba. Program yang dikenal sebagai 'tentara jas putih' ini menjadi salah satu sumber devisa utama Havana, yang kini terancam kehilangan miliaran dolar setiap tahunnya.
Kementerian Kesehatan Guatemala menyatakan bahwa penarikan Brigade Medis Kuba akan dilakukan secara bertahap sepanjang tahun ini. Mereka beralasan program tersebut telah 'menyelesaikan siklusnya' dan kini saatnya fokus pada penguatan tenaga medis nasional. Ada rencana perekrutan personel lokal, peningkatan insentif untuk posisi di daerah terpencil, serta redistribusi sumber daya manusia kesehatan. Saat ini, ada 412 tenaga medis Kuba, termasuk 333 dokter, yang mengisi kekosongan layanan kesehatan di sana.
Namun, di balik pernyataan resmi tersebut, tekanan kuat dari AS adalah faktor kunci. Washington memang getol mendesak negara-negara di dunia untuk menghentikan kerja sama dengan misi medis Kuba. Tujuannya jelas: memutus aliran pendapatan penting bagi pemerintah komunis Kuba. Sebagian besar gaji yang diterima dokter-dokter Kuba di luar negeri memang disetorkan ke kas negara, yang sangat dibutuhkan Kuba di tengah blokade ekonomi AS.
Kuba sendiri sedang menghadapi krisis parah, mulai dari kelangkaan bahan bakar, pangan, hingga obat-obatan. Situasi ini diperparah oleh blokade minyak yang diberlakukan pemerintahan Trump sejak Januari lalu. Misi medis ini telah menjadi tulang punggung diplomasi dan ekonomi Kuba sejak Revolusi 1959 di bawah Fidel Castro, yang berupaya merenggangkan diri dari pengaruh AS dan membangun aliansi global.
Langkah Guatemala ini juga tak lepas dari perubahan lanskap politik dalam negeri mereka. Sejak Bernardo Arevalo terpilih sebagai presiden pada Januari 2024, Guatemala menunjukkan kedekatan yang lebih besar dengan AS. Sebelumnya, Guatemala bahkan sepakat untuk meningkatkan jumlah penerbangan deportasi imigran dari AS. Ini menunjukkan arah kebijakan luar negeri Guatemala yang semakin selaras dengan kepentingan Washington.
Dampaknya bagi masyarakat Guatemala bisa jadi dua mata pisau. Jika rencana penggantian tenaga medis lokal berjalan lancar, sistem kesehatan mungkin akan lebih mandiri. Namun, jika tidak, kekosongan yang ditinggalkan ratusan dokter Kuba, terutama di wilayah pedesaan yang sulit dijangkau, bisa memperparah akses layanan kesehatan. Sementara bagi Kuba, ini adalah pukulan telak yang memperburuk kondisi ekonomi mereka di tengah sanksi yang membekap. Kehilangan miliaran dolar akan membebani rakyat Kuba lebih jauh, mengancam stabilitas dan kemampuan negara untuk menyediakan kebutuhan dasar.