Ibu kota India, Delhi, mendadak berubah menjadi kota mati. Ribuan polisi dan personel paramiliter dikerahkan, puluhan stasiun metro ditutup, dan internet seluler dibatasi di radius 4 kilometer dari lokasi demonstrasi. Semua ini dilakukan untuk membendung aksi unjuk rasa besar-besaran yang digelar oleh Cockroach Janta Party (CJP), sebuah gerakan politik berbasis anak muda.
Aksi yang mereka usung bertajuk "Selamatkan Demokrasi". Sasaran utamanya satu: mendesak Komisioner Pemilihan Umum (KPU) India, Gyanesh Kumar, agar mundur dari jabatannya. Pemicunya adalah revisi daftar pemilih yang mereka nilai cacat hukum dan menguntungkan Partai BJP yang berkuasa.
Data yang beredar menyebutkan, revisi ini telah menghapus lebih dari 130 juta nama dari daftar pemilih. KPU beralasan langkah itu untuk membersihkan data ganda dan mencegah masuknya "imigran ilegal asing" dalam proses pencoblosan. Namun, para pengkritik menilai kebijakan ini justru menghantam komunitas marginal dan minoritas secara tidak proporsional.
Situasi memanas setelah media lokal melaporkan bahwa dua wakil Kumar telah menyampaikan keberatan resmi sebanyak 14 kali dalam 10 bulan terakhir terkait revisi tersebut. KPU dan BJP membantah semua tuduhan ini. BJP menuding oposisi hanya mencari alasan karena tidak mampu menang dalam pemilihan.
Yang menarik, CJP awalnya hanyalah akun satir politik yang lahir pada Mei lalu. Nama "Cockroach" (kecoak) diambil dari ucapan Ketua Mahkamah Agung Surya Kant yang menyebut pengangguran muda sebagai "kecoak". Ucapan itu memicu kemarahan nasional dan justru melahirkan gerakan anak muda yang kini menjadi momok bagi pemerintah.
Polisi menolak memberikan izin demonstrasi di Jantar Mantar, lokasi protes resmi di Delhi. Alasan mereka, permohonan tidak diajukan tepat waktu dan CJP dianggap melanggar komitmen dalam aksi sebelumnya. Akibatnya, jalan menuju lokasi diblokir berlapis-lapis dengan barikade besi. Sebanyak 57 stasiun metro ditutup sejak Jumat malam, beberapa kereta jarak jauh dibatalkan, dan internet seluler dimatikan hingga Sabtu malam.
Mahkamah Agung India sempat menegur langkah ini. Mereka menyatakan beberapa kereta harus tetap berjalan dan penutupan total stasiun metro dinilai tidak proporsional. Namun di lapangan, aparat tetap bertindak tegas. CJP mengklaim sedikitnya 10.000 orang telah ditahan di seluruh negeri, termasuk mereka yang sedang dalam perjalanan menuju Delhi dengan kereta api.
"Anda bisa menahan orangnya, tapi Anda tidak bisa menahan gerakannya," tegas Neha Bora, Presiden Nasional All India Students' Association, yang kini menjadi wajah baru perlawanan anak muda India.