Washington, DC – Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, resmi mewajibkan program skrining atau tes kadar testosteron tahunan bagi seluruh personel militer AS yang berusia 30 tahun ke atas. Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Hegseth melalui sebuah video pada Rabu (12/3) waktu setempat.
Dalam aturan baru ini, tes testosteron akan dimasukkan ke dalam pemeriksaan kesehatan berkala yang sudah menjadi kewajiban tahunan bagi prajurit. Bagi anggota militer di bawah 30 tahun, mereka diperbolehkan untuk ikut serta secara sukarela. Hegseth menegaskan bahwa keputusan untuk menjalani pengobatan, termasuk terapi pengganti testosteron, sepenuhnya merupakan hak pribadi setiap prajurit.
Hegseth, yang merupakan mantan presenter Fox News dan veteran Garda Nasional Angkatan Darat, menyebut inisiatif ini sebagai bagian dari upaya mempertahankan keunggulan 'pejuang individu' (individual warfighter). Menurutnya, program ini bukan tentang peningkatan buatan, melainkan tentang memulihkan dan mengoptimalkan kemampuan alami prajurit agar memiliki fondasi biologis yang kuat untuk bertempur.
Kebijakan ini menuai reaksi keras dari kalangan politisi Demokrat. Senator Tammy Duckworth secara sinis menyebut program ini mirip dengan 'perawatan afirmasi gender' (gender-affirming care), sementara Anggota DPR Chrissy Houlahan menilai langkah Hegseth ini membuktikan bahwa ia lebih mendengarkan 'sudut ekstrem dari komunitas pria maskulin (manosphere)'. Keduanya mendesak agar skrining hormon ini juga diterapkan untuk personel wanita, mengingat tingginya angka infertilitas di kalangan personel militer.
Menurut data Mayo Clinic, kadar testosteron pria memang menurun secara alami sekitar 1 persen per tahun setelah usia 30 atau 40 tahun.