Kondisi kemanusiaan di Gaza semakin mengkhawatirkan. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina menyebutkan bahwa tingkat malnutrisi dan kelaparan di wilayah tersebut telah mencapai level 'katastrofik' atau bencana. Sejak tahun 2024, sedikitnya 466 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia akibat kekurangan gizi dan kelaparan. Yang paling memilukan, sepertiga dari korban tersebut adalah anak-anak.
Kelompok lanjut usia (lansia) menjadi penyumbang kematian terbesar akibat malnutrisi, dengan angka mencapai 189 jiwa atau sekitar 40,5 persen dari total korban. Kementerian mencatat, 11 persen lansia di Gaza harus melewatkan makan sehari penuh, sementara 48 persen lainnya terpaksa mengurangi porsi makan mereka agar anggota keluarga lain bisa tetap makan.
Dampak buruk ini tidak hanya dirasakan oleh lansia dan anak-anak, tetapi juga ibu hamil. Angka anemia pada ibu hamil melonjak drastis menjadi 61 persen pada tahun 2026, naik dari sebelumnya 41 persen sebelum perang dimulai pada Oktober 2023. Selain itu, hampir 4.000 kasus keguguran tercatat pada paruh pertama tahun 2026, jumlah ini lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode enam bulan sebelumnya.
Proyeksi ke depan pun suram. Lebih dari 1,4 juta warga Palestina—setara dengan 67 persen populasi Gaza—diperkirakan akan menghadapi krisis kerawanan pangan hingga akhir tahun 2026, terutama saat musim dingin mendatang. UNICEF memperingatkan bahwa kemajuan dalam menangani krisis kelaparan ini sangat rapuh. Meskipun gencatan senjata yang dimediasi AS sempat melonggarkan masuknya bantuan, situasi bisa memburuk jika pasokan terputus. Israel sebelumnya menyatakan tidak ada barang komersial yang masuk selama beberapa hari akibat sengketa pajak, klaim yang dibantah keras oleh pihak Hamas dan Kantor Media Pemerintah Gaza sebagai 'disinformasi' dan 'pernyataan palsu'.