VERSAILLES, PRANCIS — Sebuah sidang yang menyita perhatian publik Prancis akhirnya digelar. Marie-Thérèse Garcia, seorang perempuan berusia 79 tahun yang menjadi tahanan tertua di negaranya, duduk di kursi pesakitan atas tuduhan pembunuhan saudara iparnya, Corinne Di Dio, yang mayatnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan 31 tahun lalu.
Kisah ini bermula pada Juni 1995. Di Dio, yang saat itu berusia 37 tahun, menghilang secara misterius. Beberapa hari kemudian, warga menemukan sebuah koper besi terikat rantai mengapung di Sungai Seine, sebelah barat Paris. Isinya membuat bulu kuduk merinding: sesosok mayat perempuan tanpa kepala dan tangan. Butuh waktu dua tahun bagi polisi untuk mengidentifikasi bahwa jasad tersebut adalah Di Dio. Hingga kini, bagian tubuh yang hilang itu tak pernah ditemukan.
Garcia sebenarnya sudah masuk daftar curiga sejak awal. Namun, kasus ini dua kali dihentikan karena bukti tak cukup. Terobosan baru datang berkat teknologi DNA. Dua helai rambut yang ditemukan di dalam koper besi itu cocok dengan DNA Garcia atau kerabat perempuan dari garis keturunannya. Pada 2023, Garcia akhirnya dijebloskan ke penjara menunggu sidang. Permohonan pembebasan bersyarat yang diajukan karena usia dan kesehatannya yang menurun selalu ditolak.
Pers Prancis menjulukinya 'Ma Dalton'—merujuk pada nenek galak dalam komik Lucky Luke. Garcia bersikukuh tidak bersalah. "Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dalam hukum, jika Anda tidak tahu, Anda tidak bisa menghukum," ujarnya pada Le Parisien. Pengacaranya, Najwa El Haïté, menambahkan bahwa cara pembunuhan yang sadis—memotong kepala dan tangan—adalah modus operandi dunia kriminal kelas kakap, bukan seorang nenek tanpa catatan kriminal.
Fakta yang mempersulit kasus ini adalah kedekatan Garcia dan Di Dio dengan dunia bawah tanah. Di Dio adalah kekasih Antonio Marquez-Gomez, seorang Spanyol yang terkait jaringan narkoba. Mereka memiliki seorang putra, Romain (kini 41 tahun), yang sering dititipkan pada Garcia. Garcia sendiri menjalin hubungan dengan kakak Antonio, Francisco. Lingkaran pertemanan mereka bahkan mencakup dua kakak beradik terkenal di dunia kriminal Prancis: Jean-Jacques dan Philippe Maurice—di mana Philippe adalah orang terakhir yang dijatuhi hukuman mati di Prancis sebelum diampuni Presiden Mitterrand.
Jaksa penuntut akan mengungkap motif di balik pembunuhan ini. Mereka menduga Garcia menjebak Di Dio ke rumahnya di dekat Rambouillet, lalu menikam dan memutilasinya di ruang tamu. Motifnya diduga kuat adalah 'kesepakatan' antara Garcia dan Antonio Marquez-Gomez untuk merebut hak asuh Romain yang saat itu berusia 10 tahun dari tangan Di Dio. Garcia juga disebut menyimpan dendam karena Di Dio berselingkuh dengan Francisco. Sementara itu, Antonio yang juga didakwa dalam kasus ini, diduga melarikan diri ke Kolombia dan tidak bisa dilacak.
Analisis Dampak: Kasus ini membuka kembali luka lama dan menunjukkan betapa canggihnya kejahatan yang melibatkan hubungan personal dan jaringan kriminal. Keberhasilan forensik DNA setelah 31 tahun menjadi pengingat bahwa teknologi adalah kunci untuk mengungkap kejahatan masa lalu. Bagi publik, sidang ini juga menjadi tontonan hukum yang mendebarkan, mempertanyakan sejauh mana seorang nenek bisa terlibat dalam kekejaman yang direncanakan dengan rapi.