Manchester United sukses mengamankan kemenangan dramatis 3-2 atas Fulham di Old Trafford, Minggu (20/11) malam. Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin biasa; ia menandai rentetan gemilang Michael Carrick sebagai manajer interim, yang kini menorehkan tiga kemenangan beruntun. Namun, di balik euforia di lapangan, awan protes masih menyelimuti stadion, menyuarakan kekecewaan fans terhadap kepemilikan klub.
Setan Merah tampil memukau, berhasil meraih kemenangan dalam laga Premier League yang penuh ketegangan. Gol pertama United lahir dari sundulan Casemiro di babak pertama, disusul gol Matheus Cunha yang menggandakan keunggulan, membuat mereka tampak nyaman. Namun, drama tak terhindarkan. Fulham sempat menyamakan kedudukan lewat penalti Raul Jimenez dan gol Kevin yang indah di masa injury time. Tapi, United menunjukkan mental baja mereka. Benjamin Sesko, yang belakangan ini tampil apik, memastikan kemenangan tuan rumah lewat gol di menit akhir yang membuat Old Trafford bergemuruh. Ini adalah gol keempat Sesko dalam empat laga terakhirnya.
Tiga kemenangan beruntun ini – termasuk mengalahkan tim kuat seperti Manchester City dan pemuncak klasemen Arsenal – membawa United merangsek ke posisi keempat klasemen, memperbesar peluang mereka lolos ke Liga Champions musim depan. Performa impresif Carrick, yang ironisnya baru dipecat oleh klub divisi dua Middlesbrough tahun lalu, memunculkan pertanyaan serius: Apakah dia layak dipertimbangkan untuk menjadi manajer permanen?
Namun, cerita di balik kemenangan ini tidak melulu soal sepak bola di lapangan hijau. Sebelum kick-off, ratusan fans dari kelompok '1958 Manchester United Fans Group' menggelar protes besar-besaran di luar Old Trafford. Dengan mengenakan topeng badut dan mengibarkan spanduk, mereka menyuarakan frustrasi terhadap kepemilikan keluarga Glazer dan kurangnya perubahan berarti, bahkan setelah Jim Ratcliffe mengambil alih operasional sepak bola. Mereka mengklaim United kini "diseret dalam kekacauan oleh pemilik badut" dan "dijalankan seperti sirkus". Protes ini menunjukkan bahwa meski tim tampil bagus, akar masalah struktural dan ketidakpuasan terhadap manajemen masih mengganjal di hati para penggemar setia, menciptakan dikotomi antara harapan di lapangan dan realitas tata kelola klub.