KINSHASA - Mantan Presiden Republik Demokratik Kongo (DRC), Joseph Kabila, resmi meluncurkan koalisi politik dan militer baru yang mengejutkan. Dalam konferensi pers di Goma, Kabila mendeklarasikan berdirinya Front for the Refoundation of the Nation (FRN), sebuah aliansi yang menggandeng kelompok bersenjata M23 serta tokoh-tokoh oposisi lainnya.
Langkah ini dianggap sebagai eskalasi besar dalam krisis politik DRC. Kabila, yang memimpin negara itu dari 2001 hingga 2019, menunjuk Corneille Nangaa—mantan pemimpin aliansi politik M23—sebagai salah satu wakilnya. Koalisi ini secara terang-terangan menyatakan tujuan mereka untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Felix Tshisekedi, bahkan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer.
Analisis dari University of Ottawa menyebutkan bahwa pengumuman ini sangat mungkin memicu konfrontasi langsung dan meningkatkan intensitas pertempuran di wilayah timur DRC yang sudah lama dilanda konflik. Situasi ini juga berpotensi mengacaukan rencana perundingan damai antara pemerintah DRC dan M23 yang dijadwalkan berlangsung di Qatar pada November mendatang.
Latar belakang ketegangan ini diperparah oleh vonis mati yang dijatuhkan pengadilan militer DRC kepada Kabila secara in absentia atas tuduhan pengkhianatan dan kejahatan perang. Kabila menepis tuduhan tersebut sebagai upaya politis, meskipun Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi kepadanya terkait dugaan pendanaan kelompok pemberontak.