LEBANON ā Jutaan warga Lebanon selatan yang terpaksa mengungsi akibat gempuran Israel kini mulai pulang ke kampung halamannya. Namun, bukan rumah utuh yang mereka temukan, melainkan puing-puing dan kenangan yang tersisa.
Setelah pengumuman gencatan senjata antara AS dan Iran, ribuan keluarga yang sebelumnya bertahan di sekolah, apartemen sempit, atau rumah kerabat di zona aman, nekat kembali ke desa mereka. Yang mereka saksikan sungguh memilukan: atap rumah ambrol, mobil hangus, dan pintu serta jendela hilang dicabut paksa.
Banyak warga hanya berani tinggal sebentarācukup untuk mengambil dokumen, pakaian, dan barang berhargaāsebelum kembali mengungsi. Sebagian lain, yang tak punya tempat tujuan, memilih bertahan di tengah kehancuran.
Menurut Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, sejak 2 Maret lalu, serangan Israel telah menewaskan 3.798 jiwa dan memaksa 1,2 juta orang meninggalkan rumah mereka. Angka ini belum termasuk warga yang hilang atau luka-luka.
Analisis: Kondisi ini bukan hanya krisis kemanusiaan, tapi juga bom waktu sosial. Jika bantuan internasional tak segera mengalir, Lebanon bisa menghadapi gelombang pengungsian internal baru dan keruntuhan ekonomi yang lebih parah. Media asing melaporkan, banyak daerah di Lebanon selatan kini tak lagi layak huniālistrik padam, air bersih langka, dan akses medis terputus. Situasi ini mengingatkan kita pada konflik Suriah yang berkepanjangan.