Sudah dua tahun konflik berkepanjangan melanda Jalur Gaza, dan dampaknya kini semakin mencekik. Analisis terbaru menunjukkan, harga kebutuhan pokok di sana melonjak tajam, membuat suasana Ramadan yang seharusnya penuh suka cita berubah menjadi perjuangan berat. Pengekangan pasokan oleh Israel, meski di tengah 'gencatan senjata' Oktober lalu, membuat warga Gaza harus menghadapi krisis ekonomi yang tak kunjung usai.
Masyarakat Gaza kini berjuang keras hanya untuk mendapatkan sepotong roti, jauh dari suasana meriah Ramadan sebelum konflik. Analisis Al Jazeera, berdasarkan data resmi, mengungkap betapa mahalnya harga bahan pangan dasar. Misalnya, harga tomat naik dua kali lipat, timun melonjak hingga 300 persen, dan keju naik 110 persen. Kenaikan ini langsung memukul biaya makan sahur dan berbuka puasa.
Untuk keluarga beranggotakan enam orang, biaya sekali makan iftar saja kini mencapai sekitar 150 shekel (sekitar 48 dolar AS), naik 90 persen dari 79 shekel (25,32 dolar AS) sebelum konflik. Sementara itu, untuk sahur, hidangan sederhana seperti keju, hummus, falafel, dan roti, kini membutuhkan 31,5 shekel (10,10 dolar AS), dari sebelumnya 18,6 shekel (5,96 dolar AS). Artinya, dalam sehari, keluarga menengah di Gaza harus mengeluarkan 181,5 shekel (58,17 dolar AS) hanya untuk makan, atau sekitar 88 persen lebih mahal dibanding sebelum konflik.
Kenaikan harga ini diperparah dengan ambruknya daya beli masyarakat. Laporan PBB menyoroti pendapatan per kapita tahunan di Gaza yang anjlok drastis dari 1.250 dolar AS pada 2022 menjadi hanya 161 dolar AS pada 2024. Pasar tenaga kerja pun hampir musnah. Sami al-Amsi dari Federasi Serikat Buruh Palestina menyebutkan, angka pengangguran sempat mencapai lebih dari 95 persen karena banyak bengkel, lahan pertanian, dan armada penangkap ikan hancur lebur. Pekerja bukan lagi mencari pekerjaan, melainkan mencari paket makanan untuk bertahan hidup.
Kondisi ini menciptakan krisis kemanusiaan yang parah, di mana jutaan warga terancam kelaparan dan kesulitan mengakses kebutuhan dasar. Pembatasan akses terhadap bantuan kemanusiaan dan pasokan vital semakin memperburuk situasi. Ini bukan hanya tentang kenaikan harga, tapi juga kehancuran sistem ekonomi dan sosial yang memaksa masyarakat Gaza hidup di ambang batas kelangsungan hidup.