Kasus mengejutkan datang dari raksasa AI, OpenAI. Seorang karyawannya yang berdarah Saudi, Abdulrahman Alfozan, resmi didakwa oleh jaksa federal di California karena diduga menyelundupkan alat perekam rahasia ke dalam kantor perusahaan. Alfozan, yang bekerja sebagai engineer, dituduh memasang perangkat elektronik tersebut untuk mencuri informasi sensitif dari ruang rapat eksekutif.
Alat penyadap itu ditemukan terbungkus tisu toilet dan ditancapkan ke port USB di belakang televisi di ruang konferensi eksekutif. Pihak OpenAI mengungkapkan bahwa mereka berhasil melacak keberadaan alat tersebut berkat bantuan model AI mereka sendiri. Meskipun demikian, perusahaan menegaskan tidak ada data pelanggan, kode sumber, atau bobot model yang berhasil dicuri dalam insiden ini. Alfozan kini telah dipecat dan menghadapi ancaman hukuman penjara hingga lima tahun serta denda ratusan juta rupiah.
Analisis Dampak: Insiden ini menjadi pukulan telak bagi industri keamanan siber perusahaan teknologi. Masyarakat dan pelaku bisnis kini diingatkan bahwa ancaman 'insider threat' atau ancaman dari orang dalam masih menjadi celah keamanan terbesar, bahkan di perusahaan sekelas OpenAI yang teknologinya canggih. Hal ini juga memunculkan pertanyaan etis mengenai penggunaan AI untuk memata-matai manusia, serta bagaimana data rahasia perusahaan AI yang sangat berharga (seperti model masa depan) harus dilindungi lebih ketat lagi.