Islamabad, Al Jazeera – Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengklaim bahwa naskah final kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran sudah mencapai titik temu. Pernyataan mengejutkan ini ia sampaikan melalui akun media sosial pribadinya, X (dulu Twitter), pada hari Selasa (15/4/2025).
“Pakistan kini bekerja erat dengan kedua pihak untuk memfinalisasi langkah selanjutnya,” tulis Sharif. Ia bahkan menambahkan kalimat optimistis bahwa “perdamaian belum pernah sedekat ini.”
Klaim Sharif ini muncul hanya beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan hal serupa. Araghchi mengatakan kesepakatan “belum pernah sedekat ini sebelumnya” dan meminta media untuk tidak berspekulasi soal isi perjanjian. Menariknya, mantan Presiden AS Donald Trump ikut memviralkan pernyataan Araghchi dengan membagikannya ulang di akun Truth Social miliknya.
Ada Dua Versi Isi Deal?
Meski klaim perdamaian menguat, isi kesepakatan justru simpang siur. Media resmi Iran, IRNA, melaporkan tujuh poin utama yang menyebut tidak ada konsesi baru soal program nuklir Iran maupun kendali atas Selat Hormuz. IRNA juga menyebut akan ada pencairan aset Iran yang dibekukan.
Namun, seorang pejabat AS langsung membantah keras versi Iran. Mereka menyebut kesepakatan yang sebenarnya justru mewajibkan Iran membongkar program nuklirnya dan menghancurkan material nuklir, serta membuka kembali Selat Hormuz.
Wakil Presiden AS, JD Vance, juga angkat bicara. Ia membantah soal pencairan aset Iran secara instan. “Kesepakatan ini dirancang untuk memastikan kepentingan AS dan sekutunya diutamakan. Jika Iran memenuhi kewajiban, maka manfaat ekonomi akan mengalir ke mereka dan seluruh kawasan,” tulis Vance. Ia bahkan menyebut perjanjian ini berpotensi “membentuk kembali kawasan” dan mengarah pada perdamaian abadi.
Analisis Dampak
Perbedaan narasi antara Iran dan AS soal isi perjanjian menunjukkan bahwa negosiasi masih sangat rapuh. Jika kesepakatan benar-benar tercapai, dampaknya akan sangat besar bagi pasar energi global. Selat Hormuz adalah jalur transit 20% minyak dunia. Jika Iran setuju membuka akses penuh, harga minyak berpotensi turun drastis. Sebaliknya, jika buntu lagi, ketegangan geopolitik justru bisa memicu krisis baru. Keterlibatan Pakistan sebagai mediator juga menarik, karena negara ini punya hubungan dekat dengan Arab Saudi dan China, yang juga punya kepentingan besar di Teluk.