Jakarta, BBC News Indonesia ā Sebuah video manipulasi kecerdasan buatan (AI) yang memperlihatkan nama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dirobek dari fasad sebuah gedung viral dan telah ditonton jutaan kali di media sosial. Insiden ini memicu perdebatan sengit mengenai penyebaran konten palsu di era digital.
Video tersebut, yang beredar luas di platform seperti X (sebelumnya Twitter) dan TikTok, menggunakan teknologi deepfake untuk menciptakan ilusi yang tampak realistis. BBC Verify, unit verifikasi berita BBC, bersama jurnalis Ros Atkins, telah menelusuri ribuan unggahan Presiden Trump untuk mengonfirmasi keaslian konten tersebut.
Analisis Dampak: Fenomena ini menunjukkan betapa rentannya publik terhadap disinformasi visual. Dengan teknologi AI yang semakin canggih, hoaks semacam ini tidak hanya merusak reputasi tokoh publik, tetapi juga menggerus kepercayaan masyarakat terhadap informasi visual yang mereka konsumsi sehari-hari. Pakar media dari Universitas Indonesia menilai, kejadian ini menjadi alarm keras bagi platform media sosial untuk memperketat algoritma deteksi konten palsu.
Menariknya, di tengah hiruk-pikuk politik dan ekonomi globalāmulai dari kekhawatiran inflasi hingga konflik Iranāpasar saham AS justru mencatat rekor tertinggi, didorong oleh sektor kecerdasan buatan. Namun, jurnalis BBC Samira Hussain mempertanyakan apakah gelembung (bubble) ekonomi ini akan segera pecah.