Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko bukan sekadar ajang olahraga biasa. Turnamen ini justru menjadi panggung politik global yang sangat rumit. Bayangkan, tuan rumah utama sedang berperang dengan salah satu peserta, sementara tiga negara penyelenggara justru terlibat perang dagang besar-besaran.
Presiden AS Donald Trump sangat fokus pada turnamen ini. Ia bahkan bercanda bahwa kekalahannya dari Joe Biden pada 2020 justru menguntungkan karena memungkinkannya hadir di Piala Dunia 2026 dan Olimpiade Los Angeles 2028. Trump juga secara langsung menyerukan penghentian serangan setelah ketegangan baru antara Teheran dan Tel Aviv.
Yang lebih menarik, ada kemungkinan AS dan Iran bertemu di babak gugur, tepat pada akhir pekan perayaan 250 tahun kemerdekaan AS. Presiden FIFA Gianni Infantino pun menyerukan gencatan senjata selama Piala Dunia berlangsung. Jika turnamen ini bisa mempercepat de-eskalasi konflik, dampaknya akan terasa pada harga energi dan ekonomi global.
Namun, ada sisi lain yang tak kalah penting: ekonomi turnamen ini benar-benar berbeda. Sebagian besar pertandingan digelar di stadion American football yang dipinjam. Tiket kereta komuter New Jersey Transit yang biasanya 12,90 dolar AS kini melonjak menjadi 100 dolar AS untuk turnamen. Fans benar-benar diperas seperti belum pernah terjadi sebelumnya.
Ini adalah guncangan total pada ekonomi sepak bola dan contoh nyata bagaimana ekonomi negara-negara besar semakin beroperasi di hadapan para penggemar sepak bola di seluruh dunia.