GEMBIRA CAMPUR CEMAS: WARGA LEBANON BERGELOMBANG PULANG - Berita Dunia
← Kembali

GEMBIRA CAMPUR CEMAS: WARGA LEBANON BERGELOMBANG PULANG

Foto Berita

Ribuan warga Lebanon berbondong-bondong kembali ke kampung halaman mereka di Lebanon selatan. Kepulangan ini terjadi setelah kabar gembira soal kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat yang ikut mengakhiri perang di Lebanon. Fadl Nasser, salah satu pengungsi, langsung tancap gas naik motor begitu mendengar kabar itu. Ia ingin segera pulang ke Ain Baal, kampung halamannya.

Mereka adalah bagian dari 1,2 juta warga Lebanon yang terpaksa mengungsi akibat invasi Israel sejak Maret lalu. Selama berbulan-bulan, mereka bertahan hidup di sekolah-sekolah yang disulap jadi tempat pengungsian, seperti yang dialami Nasser di Sidon. Kini, arus lalu lintas dari utara ke selatan kembali padat, kebalikan dari kondisi saat perang memuncak.

Namun, euforia pulang kampung ini diiringi kecemasan. Israel masih menduduki hampir 20 persen wilayah Lebanon selatan. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan dengan tegas menyatakan pasukannya tidak akan mundur dari zona penyangga yang mereka klaim. Ancaman serangan masih membayangi, membuat situasi keamanan belum sepenuhnya pulih.

Otoritas Lebanon dan militer sudah mengimbau warga untuk tidak buru-buru pulang. Tapi, bagi warga yang sudah berbulan-bulan hidup di tenda dan mobil, rasa rindu pada tanah kelahiran lebih kuat dari segalanya. "Kehilangan orang tercinta jauh lebih berat daripada kehilangan batu-batu rumah," ujar Mohammad Hariri, yang pulang dan mendapati rumahnya hancur. Seperti dilansir Al Jazeera, banyak yang nekat pulang meski sadar bahwa di sana mereka hanya akan menemukan puing-puing.

Kondisi di lapangan memang mengerikan. Di kota Tyre dan Nabatieh, misalnya, lebih dari 70 persen bangunan rata dengan tanah, mirip dengan kehancuran di Gaza. Perang yang berlangsung sejak 2 Maret lalu ini telah menewaskan setidaknya 3.783 orang dan melukai 11.699 lainnya. Bagi warga yang selamat, pulang bukan sekadar kembali ke rumah, melainkan memulai hidup dari nol di tengah tumpukan reruntuhan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook