Kabar duka datang dari Rubaya, Republik Demokratik Kongo (DRC), yang dikenal sebagai salah satu sumber koltan terbesar di dunia. Setidaknya 200 nyawa melayang setelah tambang koltan di wilayah tersebut ambruk akibat tanah longsor hebat pada Rabu, 28 Januari lalu. Insiden ini kembali menyoroti kondisi kerja yang sangat berbahaya bagi para penambang tradisional yang mempertaruhkan nyawa demi mineral penting bagi teknologi modern.
Peristiwa nahas itu terjadi di situs pertambangan Luwowo, perimeter Rubaya, saat hujan deras mengguyur area tersebut. Saksi mata menuturkan, curah hujan tinggi memicu tanah longsor yang seketika menimbun ratusan pekerja, termasuk para penambang dan pedagang makanan yang biasa beraktivitas di sekitar lokasi. Banyak korban meninggal dunia karena sesak napas atau tertimpa longsoran tanah dan batuan.
Di tengah keputusasaan dan duka mendalam, muncul kisah ajaib seorang penambang bernama Grace Barata. Pria berusia 35 tahun ini dinyatakan hilang dan hampir dipastikan meninggal dunia oleh keluarganya, bahkan persiapan pemakaman sudah dimulai. Namun, lebih dari 24 jam setelah kejadian, Barata berhasil dievakuasi dalam kondisi lemah dan kelelahan, tetapi selamat. "Kami sudah mulai berduka untuk saudara kami. Ini anugerah Tuhan, dia kembali dari kematian," ujar Munguiko Ntacyumpenze, sepupu Barata, penuh haru.
Rubaya menyimpan cadangan mineral strategis seperti koltan, timah, dan tungsten, yang sangat vital untuk produksi ponsel pintar dan mobil listrik global. Namun, ironisnya, ribuan penambang kecil di sana hidup dalam kemiskinan ekstrem, mempertaruhkan nyawa setiap hari dengan alat seadanya. Kondisi kerja yang tidak standar, ditambah dengan kontrol wilayah oleh kelompok pemberontak, membuat keselamatan pekerja sangat minim.
Tragedi ini bukan hanya sekadar kecelakaan, melainkan cerminan dari kompleksnya masalah kemanusiaan dan etika dalam rantai pasokan global. Di satu sisi, dunia menikmati kemajuan teknologi berkat mineral dari DRC, namun di sisi lain, para penambang yang menjadi ujung tombak ekstraksi mineral tersebut terus hidup dalam bayang-bayang bahaya dan kemiskinan. Insiden ini harus menjadi pengingat bagi dunia tentang pentingnya praktik penambangan yang bertanggung jawab dan perlindungan hak-hak pekerja di seluruh dunia.