Perekonomian China mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi dari perkiraan pada kuartal III 2025, didorong oleh lonjakan ekspor produk teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Data Biro Statistik Nasional China menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 4,5 persen secara year-on-year pada periode Juli-September, naik dari 4,3 persen di kuartal sebelumnya dan melampaui prediksi mayoritas analis.
Sepanjang Januari-September, PDB China tumbuh 4,6 persen. Ekspor China melesat lebih dari 16 persen pada tiga kuartal pertama, terutama berkat permintaan kuat semikonduktor dan barang teknologi lain. Meski begitu, pertumbuhan ekonomi terbesar kedua dunia ini masih tertekan oleh lemahnya konsumsi domestik dan pasar properti yang lesu.
Penjualan ritel sebagai indikator konsumsi hanya naik 1,1 persen pada September dan 2,6 persen selama sembilan bulan pertama. Produksi industri naik 5,5 persen di September, sementara investasi aset tetap justru terkontraksi 7,2 persen pada Januari-September.
Profesor Keuangan Stanford University, Zhiguo He, menilai Beijing akan tetap waspada terhadap ketergantungan pada ekspor. "Perlambatan yang terkendali adalah harapan terbaik Beijing. Properti masih menyusut, dan ini memang yang diinginkan Beijing," ujarnya kepada Al Jazeera.
Analisis dampak: Bagi masyarakat Indonesia, lonjakan ekspor teknologi China berpotensi menekan harga barang elektronik dan komponen AI di pasar global, namun juga menjadi sinyal bahwa permintaan komoditas dari China bisa melemah karena fokus bergeser ke sektor teknologi. Ketergantungan China pada ekspor juga menjadi peringatan bagi negara mitra dagang seperti Indonesia untuk memperkuat pasar domestik masing-masing.